Minggu, 14 Oktober 2012

ITIK (MANTIQUT-THAIR)

Itik
Mantiqut-Thair, Faridu'd-Din Attar

Dengan takut-takut Itik pun keluar dari air lalu pergi ke persidangan itu, mengenakan jubahnya yang terindah. “Tiadalah kiranya yang pernah menyaksikan makhluk yang lebih menarik dan lebih suci dari padaku,” katanya. “Setiap saat aku melakukan sesuci yang menjadi kelaziman itu, lalu membentangkan tikar sembahyang di air. Burung mana dapat hidup dan bergerak di air seperti aku? Dalam hal ini aku punya kemampuan yang mengagumkan. Di antara burung-burung aku petobat yang berpenglihatan jernih, berpakaian bersih; dan aku hidup dalam unsur yang suci. Tak ada yang lebih bermanfaat bagiku kecuali air, karena di sana kudapat makananku dan kumiliki permukimanku. Bila kesusahan-kesusahan merisaukan diriku, kubasuh hilangkan semuanya di air. Air jernih memberikan zat-zatnya pada sungai di mana aku hidup; aku tak suka akan tanah kering. Begitulah, karena aku hanya berurusan dengan air, mengapa pula aku harus meninggalkannya? Segala yang hidup ini hidup dari air. Bagaimana aku akan dapat melintasi lembah-lembah dan terbang mendapatkan Simurgh? Mana mungkin macam aku ini yang puas dengan permukaan air, merasa rindu untuk bertemu dengan Simurgh?”

Hudhud berkata, “O kau, yang menemukan kegembiraan di air yang memenuhi seluruh hidupmu! Bermalas-malas kau mengantuk di sana, tetapi ombak datang dan kau dihanyutkan. Air hanya baik buat mereka yang bermuka jelita dan berwajah bersih. Jika kau seperti itu, baiklah! Tetapi berapa lama kau akan tetap bersih dan suci bagai air?”

Cerita Orang yang Salih

Seseorang bertanya pada seorang aulia, “Bagaimanakah kiranya kedua dunia yang selalu memenuhi pikiran kita itu? ” Jawabnya, “Baik dunia atas maupun dunia bawah bagaikan setitik air, yang ada dan yang tidak ada. Yaitu setitik air yang menampakkan dirinya sendiri pada mulanya, dan kemudian mengambil beragam bentuk yang indah-indah. Segala perwujudan ini bagaikan air. Tiada yang lebih keras daripada besi, namun besi pun tahu bahwa airlah asalnya. Tetapi segala yang berasas pada air, biar besi pun, tak lebih nyata dari mimpi. Air sama sekali tak tetap.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar