Minggu, 14 Oktober 2012

BURUNG-BURUNG MEMBICARAKAN PERJALANAN MENUJU SIMURGH

Burung-burung Membicarakan Perjalanan Menuju Simurgh
Manthiqut-Thair by Faridu'd-Din Attar




Setelah mereka merenungkan kisah Syaikh San’an, burung-burung itu pun memutuskan untuk meninggalkan segala cara hidup mereka yang lama. Pikiran te
ntang Simurgh membangkitkan mereka dari kelesuan jiwa; hanya cinta terhadapnya semata yang memenuhi hati mereka, dan merekapun mulai mempertimbangkan bagaimana memulai perjalanan itu.

Mereka berkata, “Lebih dulu kita harus mempunyai petunjuk jalan yang akan mengurai menyimpulkan persoalan. Kita membutuhkan pemimpin yang akan mengatakan pada kita apa yang harus diperbuat, pemimpin yang dapat menyelamatkan kita dari laut dalam ini.

Kita akan mematuhinya dengan setulus hati dan melakukan apa yang dikatakannya, baik yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan, agar bola kita akan jatuh di tongkat Pegunungan Kaukasus.1 Kemudian zarrah akan menjadi satu dengan matahari yang agung itu; dan bayang-bayang Simurgh akan jatuh pada kita. Kini, mari kita menarik undian untuk memilih pemimpin. Kepada siapa undian itu jatuh, dia akan menjadi pemimpin kita; dia akan jadi besar di antara yang kecil.”

Lalu mulai terjadi keributan, setiap mereka segera bicara, tetapi ketika segala sesuatu sudah siap, siul dan ocehan pun terhenti mati, dan burung-burung itu terdiam sunyi. Penarikan undian dilakukan dengan upacara, dan kebetulan undian jatuh pada Hudhud yang bersemangat itu. Dengan bulat mufakat semua menyetujui dan berjanji akan mematuhi Hudhud meskipun dengan mempertaruhkan hidup mereka, dan tak akan sayang berkorban jiwa maupun raga. Hudhud tampil ke muka dan sebuah mahkota pun dikenakan di kepalanya.

Di tempat yang ditentukan, begitu banyak jumlah burung yang berkumpul di sana sehingga tertutuplah bulan dan ikan karenanya. Tetapi ketika mereka melihat jalan masuk ke lembah pertama, mereka pun terbang membubung ke awan dengan takut. Tetapi dengan kepak sayap dan lar yang lebih bergairah, hasrat untuk meninggalkan segalanya pun hidup kembali. Tetapi tugas di muka mereka berat dan jalan pun panjang. Kesunyian mengeram di jalan yang membentang di hadapan dan seekor burung pun bertanya pada Hudhud mengapa begitu lengang. “Karena hormat yang ditimbulkan sang Raja maka jalan yang menuju ke tempat persemayamannya begitu lengang,” jawab Hudhud.

Cerita Kecil tentang Bayazid Bistami

Suatu malam ketika Syaikh Bayazid keluar kota, terasa padanya bahwa kesunyian yang dalam meliputi tanah lapang. Bulan menyinari dunia membuat malam seterang siang. Bintang-bintang berkelompok menurut kecenderungan masing-masing, dan setiap susunan bintang memiliki tugasnya sendiri. Syaikh itu berjalan terus tak melihat sekilas gerak atau seorang pun manusia. Hatinya terharu dan ia berkata, “Rabbi, sedih yang menjara mengharu hamba. Mengapa maka istana yang begitu lembut mengesan ini sunyi dari para pemuja yang penuh damba?” “Tak usah heran,” mata suara batin menjawab, “Raja tak memperkenankan sembarang orang datang ke istana-Nya. Keagungan-Nya tak memungkinkan Dia menerima para petualang di pintunya. Bila tempat-suci keagungan kami melimpahkan kegemilangannya, ia tak menghargai mereka yang pengantuk dan tak peduli. Kau salah seorang di antara seribu yang mohon perkenan dan kau harus menunggu penuh kesabaran.”
Catatan kaki:

1 Secara harfiah, yang dimaksudkan dengan “bola” di sini (dan juga di tempat-tempat lain dalam buku ini, seperti pada bagian akhir dalam Kisah Syaikh San’an di atas) ialah bola dalam permainan polo berkuda, yang sudah dikenal di Persia Kuno (antara lain dapat kita baca dalam Salaman dan Absal, sebuah karya klasik buah tangan Jami, seorang penyair-sufi Persia, 1414 – 1492 Masehi). Dalam permainan itu, para pemain berkuda, dan bola yang terbuat dari kayu dipukul dengan tongkat-pemukul (mallet). Secara kias, agaknya yang dimaksud dengan “bola” di sini ialah nasib peruntungan atau lebih luas: hidup. Sedang “tongkat” Pegunungan Kaukasus di sini agaknya ialah kekuasaan Simurgh, karena Pegunungan Kaukasus ialah tempat semayam Simurgh. Maka sebuah parafrase untuk anak kalimat itu agaknya dapat dibuat sebagai berikut: “agar kita dapat menyerahkan nasib peruntungan (hidup) kita pada kekuasaan Simurgh.” – H.A.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar