Minggu, 14 Oktober 2012

HUDHUD MENUTURKAN TUJUAN PERJALANAN (MANTIQUT-THAIR)

Hudhud Menuturkan Tujuan Perjalanan.
by Faridu'd-Din Attar dalam Manthiqut-Thair


Setelah Hudhud selesai berbicara, burung-burung pun mulai mengetahui tentang rahasia-rahasia purba dan pertalian mereka sendiri dengan Simurgh. Tetapi meskipun mereka dicekam keinginan hendak menempuh perjalanan itu, namun mereka mengelak-elak untuk berangkat disebabkan keraguan masih selalu mengganggu pikirannya.
Maka mereka pun berkata pada Hudhud, “Adakah kau mengharapkan kami agar meninggalkan hidup kami yang tenang ini dengan segera? Kami burung-burung yang lemah ini sendiri tak mungkin berharap akan mendapatkan jalan ke tempat luhur itu, di mana Simurgh hidup.”

Hudhud menjawab, “Aku bicara pada kalian sebagai penunjuk jalan. Ia yang mencinta tak peduli akan hidupnya sendiri; untuk mencintai dengan tulus, siapa pun harus melupakan dirinya sendiri, baik ia zahid1 atau orang yang hidup bebas. Apabila nafsu-nafsu kalian tak selaras dengan jiwa kalian, korbankanlah itu, dan kalian pun akan sampai ke tujuan perjalanan kalian. Apabila sosok nafsu merintangi jalan, campakkanlah itu; kemudian arahkan mata kalian ke muka dan pusatkan pikiran. Yang bodoh akan bertanya, ‘Apakah hubungan antara keimanan atau kekufuran dengan cinta?’ Tetapi kataku, ‘Adakah mereka yang mencinta peduli akan hidupnya? Yang mencinta membakar segala harapan panen, ia menetakkan mata pedang ke lehernya sendiri, ia menusuk tubuhnya sendiri. Dengan cinta timbul duka dan darah hati. Cinta-mencintai yang serba sulit.’

O Pembawa piala! Isi pialaku dengan darah hatiku, dan bila tak ada lagi, beri aku endapannya. Cinta ialah kepedihan yang tak kenal ampun, yang menelan segalanya. Kadang ia merenggutkan cadar dari jiwa, kadang merapatkannya. Sezarrah cinta lebih baik dari sekalian yang ada antara segala ufuk, sezarrah kepedihannya lebih baik dari cinta bahagia yang ada pada segala mereka yang mencinta. Cinta memang sumsum segala yang hidup; tetapi tiada cinta yang nyata tanpa penderitaan yang nyata. Siapa berpegang teguh pada cinta tak mementingkan keimanan, agama maupun kekufuran. Cinta akan membukakan pintu kemiskinan ruhani dan kemiskinan ruhani akan menunjukkan pada kalian jalan kekufuran. Bila tiada yang tinggal lagi, baik kekufuran, maupun agama, maka jiwa raga kalian akan lenyap; maka barulah kalian layak menemukan kerahasiaan itu –bila kalian mau menjajakinya; inilah jalan satu-satunya.

Maka majulah, tanpa takut. Tinggalkan segala yang kekanak-kanakan, dan lebih dari segala itu, tabahkan hati; sebab seratus perubahan ihwal akan kalian alami tanpa bisa diduga-duga.

Catatan kaki:
1 Orang yang menuntut kehidupan suci, menjauhi kesenangan duniawi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar