Minggu, 14 Oktober 2012

HUMAY (MANTIQUT-THAIR)

Humay 
Manthiqut-Thair, Faridu'd-Din Attar

Kini di muka majelis itu berdiri Humay,1 Pemberi Lindap itu, dengan bayang-bayangnya yang melimpahkan kemuliaan pada raja-raja. Lantaran ini ia mendapat gelar “Humayun”, si mujur, karena dari segala makhluk, dialah yang paling besar gairah keinginannya.

Katanya, “Burung-burung di darat dan di laut, aku bukan burung seperti kalian. Gairah keinginan yang muluk menggerakkan diriku dan untuk memenuhi itu aku terpisah dari makhluk-makhluk lain. Telah kujinakkan anjing nafsu, karena itu terpujilah Feridun dan Jamsyid.

Raja-raja diangkat karena pengaruh bayang-bayangku, tetapi orang-orang yang berwatak pengemis tak suka padaku. Kuberikan tulang pada anjing nafsuku dan kupertaruhkan jiwaku sebagai jaminan terhadapnya. Bagaimana orang dapat memalingkan muka dari diriku yang menimbulkan raja-raja dengan bayang-bayangku.

Di bawah naungan sayapku setiap orang mencari lindungan. Masihkah kuperlukan persahabatan dengan Simurgh yang besar bila kemuliaan sudah ada padaku karena sifat pembawaanku?”

Hudhud menjawab, “O budak kesombongan! Jangan kembangkan lagi bayang-bayangmu dan jangan sombongkan lagi dirimu. Pada saat ini, jauh dari kekuasaan yang melimpah pada para raja, kau seperti anjing yang sibuk dengan sekerat tulang.

Tuhan melarang kau mendudukkan keturunan Khosru di atas tahta. Tetapi andaikan pula bayang-bayangmu menempatkan para penguasa di atas tahta mereka, esok mereka pun akan menemui kemalangan dan akan kehilangan kemuliaan mereka selama-lamanya, sedangkan, bila saja mereka tak melihat bayang-bayangmu, tentulah mereka tak akan menghadapi perhitungan yang begitu mengerikan di hari kemudian.”

Mahmud dan Orang Alim
Seorang yang salih, yang ada di Jalan yang benar, melihat Sultan Mahmud2 dalam mimpi dan berkata padanya, “O Raja yang bahagia, bagaimana keadaan dalam Kerajaan Baka?” Sultan menjawab, “Pukul badanku jika kau mau, tetapi jangan ganggu jiwaku. Jangan berkata apa pun, pergilah, karena di sini tak akan disebut-sebut tentang jabatan raja. Kekuasaanku hanya riya, kemegahan diri, kesombongan dan kesesatan semata.

Dapatkah kekuasaan mengagungkan segenggam tanah? Kekuasaan milik Tuhan, Penguasa Alam Semesta. Kini setelah kuketahui kelemahan dan kedaifanku, aku pun malu pada kedudukanku sebagai raja. Bila kau ingin memberiku gelar, berilah aku gelar “si malang”. Tuhan Raja Alam ini, maka jangan sebut aku raja. Kerajaan milik Tuhan; dan aku senang kini menjadi seorang darwis biasa di dunia.

Semogalah Tuhan menyediakan seratus sumur untuk memurukkan diriku hingga aku tak usah menjadi raja. Lebih baiklah sekiranya aku menjadi pemungut sisa-sisa panenan di ladang-ladang gandum. Sebut Mahmud hamba-sahaya. Sampaikan restuku pada putraku Masud, dan katakan padanya, ‘Jika kau ingin menjadi arif, perhatikan peringatan dari ihwal bapamu.’ Semoga layulah sayap dan bulu-bulu Humay itu, yang menaungkan bayang-bayangnya padaku!”

Catatan kaki:
1 Sebangsa makhluk imajiner yang dalam bahasa Latin disebut gryphus, berbadan singa, berkepala dan bersayap burung rajawali. Humay ialah gryphus berjanggut. Disebut sebagai burung buas terbesar di Benua Lama. Menggondol tulang-tulang berbagai binatang dan menghancurkannya di batu karang untuk dimakam. Bayang-bayang humay yang jatuh di kepala seseorang ialah alamat bahwa orang itu bakal dinobatkan sebagai raja.

2 Hidup pada tahun 969 – 1030. Ibukotanya di Nisyapur dan istananya di Gazna. Di istananya banyak berhimpun para penyair, seniman dan cendekiawan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar