Minggu, 22 Mei 2011

Sejarah Para Khalifah: Al-Mustanjid Billah, Ditawan Hingga Wafat


REPUBLIKA.CO.ID, Al-Mustanjid Billah, Abu Al-Mahasin, Yusuf bin Al-Mutawakkil Alallah dilantik sebagai khalifah (1460-1485 M) setelah saudaranya, Al-Qaim Biamrillah, wafat. Yang menjadi sultan saat itu adalah Al-Asyraf Inal.
Inal meninggal pada 865 H. Sebagai penggantinya naiklah anaknya, Ahmad, dengan gelar Al-Muayyid. Namun Khasyqadam merebut kesultanan dari tangan Al-Muayyid.
Al-Muayyid ditangkap pada Ramadhan di tahun pengangkatannya sebagai sultan. Khalifah Al-Mustanjid kemudian mengangkat Khasyqadam sebagai sultan baru dan memberinya gelar Azh-Zhahir. Dia menjadi sultan hingga akhir hayatnya, yaitu pada Rabiul Awal 872 H.
Setelah itu diangkatlah Balbay sebagai sultan dengan gelar Azh-Zhahir juga. Namun dua bulan setelah duduk di kursi kesultanan, Balbay didepak oleh para tentara. Sebagai penggantinya, khalifah menunjuk Tamrigh, juga dengan gelar Azh-Zhahir. Tamrigh juga diturunkan secara paksa dari kursi kesultanan.
Khalifah akhirnya mengangkat Qayatabay sebagai sultan dengan gelar Al-Asyraf. Kesultanan menjadi stabil di dalam genggamannya. Qayatabay dikenal sebagai sultan yang pemberani dan kuat. Satu hal yang belum pernah terjadi sejak masa kesultanan An-Nashir Muhammad bin Qalawun. Buktinya adalah ia pernah mengadakan perjalanan dari Mesir ke Furat dan hanya ditemani oleh sekelompok kecil tentara tanpa pengawalan ketat.
Di antara catatan emas yang pernah dilakukan khalifah adalah dia tidak pernah mengangkat seroang pun di Mesir untuk menduduki posisi-posisi yang sifatnya keagamaan, seperti hakim, guru dan pengajar di masjid kecuali orang-orang yang diangkat tadi pasti akan melakukan perbaikan-perbaikan yang sangat penting setelah sebelumnya kacau-balau. Al-Mustanjid tidak pernah mengangkat seorang hakim atau syekh tertentu atas dasar uang dan gaji.
Di awal pengangkatannya sebagai sultan, Azh-Zhahir langsung didatangi oleh penguasa Syam, Hatim. Ini terjadi karena adanya kesepakatan antara Hatim dengan tentara yang ada di kalangan sultan. Setelah mendengar kedatangan Hatim, Azh-Zhahir meminta khalifah, para hakim yang empat dan tentara untuk datang ke benteng.
Ketika semua yang datang meninggalkan benteng, Azh-Zhahir melarang Khalifah Al-Mustanjid kembali ke kediamannya. Al-Mustanjid tetap tinggal di tempat itu hingga meninggal dunia pada Sabtu 14 Muharram 888 H, setelah sebelumnya menderita sakit selama dua tahun. Jenazahnya dishalatkan di benteng. Setelah itu dibawa ke makam para khalifah. Saat meninggalnya, Al-Mustanjid berusia 90 tahun atau lebih.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar