Minggu, 22 Mei 2011

Al-Hakim Biamrillah I, Dibaiat Ibnu Taimiyah

Sejarah Para Khalifah: Al-Hakim Biamrillah I, Dibaiat Ibnu Taimiyah




REPUBLIKA.CO.ID, Ketika Baghdad diserang pasukan Tartar, Al-Hakim bersembunyi dan berhasil menyelamatkan diri. Ia kemudian lari dari Baghdad bersama sekelompok orang yang menemaninya.
Dalam perjalanan, Al-Hakim menuju kediaman Husain bin Falah, pemimpin Bani Khafajah. Untuk beberapa lama dia tinggal bersamanya. Kemudian dia berangkat ke Damaskus bersama orang-orang Arab yang berada di Khafajah, dan tinggal bersama Pangeran Isa bin Muhanna.
An-Nashir, penguasa Damaskus, mendengar kedatangannya. An-Nashir kemudian mengirim utusan meminta agar Al-Hakim segera datang ke Damaskus. Namun kedatangan Al-Hakim pada saat itu bersamaan dengan kedatangan pasukan Tartar.
Tatkala Malik Al-Muzhaffar datang ke Damaskus, dia segera menyuruh Amir Qalaj Al-Baghdadi untuk menjemputnya. Akhirnya Al-Hakim Biamrillah tiba di Damaskus dan dilantik sebagai khalifah.
Al-Hakim banyak dibantu oleh orang-orang terkemuka dari kalangan Arab. Dengan bantuan merekalah, ia mampu menaklukkan Ghanah, Al-Haditsah, Hita dan Al-Anbar. Dia bertempur melawan pasukan Tartar dan berhasil mengalahkan mereka.
Akhirnya, Al-Hakim kembali ke Halb dan kemudian dibaiat menjadi khalifah oleh penguasa dan para pembesar kota itu. Di antara orang-orang yang membaiatnya adalah Abdul Halim Ibnu Taimiyah. Al-Hakim berkuasa dalam waktu yang sangat lama, sekitar empat puluh tahun lebih (1262-1302 M).

Syekh Quthbuddin mengatakan, pada Kamis 8 Muharram 660 H, Sultan Malik Azh-Zhahir melakukan rapat umum. Khalifah Al-Hakim Biamrillah datang ke tempat tersebut. Dia duduk bersama sultan, yang kemudian mengangkat tangannya dan membaiatnya sebagai khalifah kaum Muslimin. Setelah dibaiat, Al-Hakim langsung mengangkat tangan Sultan Al-Malik dan memberikan tugas-tugas. Setelah itu para hadirin membaiatnya bergantian sesuai kedudukan dan posisi masing-masing.
Keesokan harinya, Jumat 9 Muharram 660 H, Al-Hakim berkhutbah di masjid. Dalam khutbahnya, ia menyebutkan tentang jihad dan kepempimpinan (imamah). Tak lupa juga ia mengutarakan tentang pengrusakan kehormatan negara Islam (khilafah) oleh para musuh.
Kemudian Al-Hakim berkata, "Sultan ini (Malik Azh-Zhahir) telah berhasil menyelamatkan kepemimpinan Islam saat para pendukungnya sangat sedikit. Dia telah berhasil mengusir tentara-tentara kafir setelah sebelumnya mereka berhasil mengobrak-abrik tanah kaum Muslimin. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya penolong bagi Bani Abbas."
Setelah itu, ia mengirimkan surat ke seluruh pelosok negeri untuk mendoakan Sultan Malik.
Pada tahun ini, beberapa orang Tartar datang menemui khalifah dan menyatakan masuk Islam dengan penuh kesadaran. Setelah bersyahadat, mereka pun diberi roti dan makanan yang biasa dimakan kaum Muslimin. Ini merupakan permulaan terhentinya kejahatan mereka.
Pada bulan Muharram 676 H, Sultan Malik Azh-Zhahir meninggal dunia di Damaskus. Setelah itu, anaknya, Malik As-Sa'id yang berumur 18 tahun, menggantikan ayahnya sebagai sultan.
Pada 678 H, Sultan Malik As-Sa'id dicopot dari jabatannya. Akhirnya ia diberangkatkan ke Karak untuk menjadi sultan di sana. Namun ia meninggal dunia tahun itu juga. Maka diangkatlah saudaranya, Badruddin Salamusy yang saat itu berusia tujuh tahun, sebagai sultan. Mereka menggelarinya Al-Malik Al-Adil, dan diangkat pula Saifuddin Qalawun sebagai menterinya.
Namun tak berapa lama, Salamusy juga diturunkan dari kursi kesultanan. Sebagai penggantinya diangkatlah Saifuddin Qalawun. Pada Dzulqa'dah 689 H, Sultan Qalawun meninggal dunia. Sebagai penggantinya, diangkatlah Malik Al-Asyraf Shalahuddin Khalil. Saat memerintah, dia menampakkan dukungan yang sangat besar pada Khalifah Al-Hakim.
Pada malam Jumat, 18 Jumadil Ula 701 H, Khalifah Al-Hakim Biamrillah wafat. Dia dishalatkan dekat benteng. Semua pejabat negara hadir saat pemakamannya, dan semuanya berjalan kaki. Al-Hakim dimakamkan berdekatan dengan kuburan Sayyidah Nafisah. Dia adalah khalifah pertama yang dimakamkan di tempat itu. Sebelum meninggal, Al-Hakim telah mewasiatkan kekhalifahan kepada anaknya, Sulaiman Abu Ar-Rabi.

Redaktur: cr01

Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar