Senin, 16 Mei 2011

Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah Ahmad Lussy Seorang Muslim yang taat

Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu,
karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen
.

Muslim Taat
Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy,  Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi  pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu  diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan  Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim  yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah  menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku  adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali  terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan  bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni  Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir
ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah  negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu  adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura  Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau  Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah  Sultan Abdurrahman.

Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari  Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad  Lussy. Dan Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah  perjuangan rakyat Maluku.

Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu  marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga  Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut  agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan  Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu  banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul  Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku.

Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini  diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadi  best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen,  lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja.  Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”

Sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, dari sudut pandang  antropologi juga kurang meyakinkan. Misalnya dalam melukiskan proses terjadi  atau timbulnya seorang kapitan. Menurut Sapija, gelar kapitan adalah  pemberian Belanda. Padahal tidak.

Leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo  religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di  luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna  rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan  kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian  khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai  sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka  orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang  dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses  turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara  genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari
sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu  bermula.

Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy  Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda  disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat  akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan  pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Kedua,
Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli  perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang  membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga,  rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja,  penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.

Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat  berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang  bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan  tempat-tempat lainnya.

Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lussy itu terekam dalam  tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini  justru lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada data tertulis dari Belanda  yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia. Di antara petatah-petitih itu  adalah sebagai berikut:

Yami Patasiwa
Yami Patalima
Yami Yama’a Kapitan Mat Lussy
Matulu lalau hato Sapambuine
Ma Parang kua Kompania
Yami yama’a Kapitan Mat Lussy
Isa Nusa messe
Hario,
Hario,
Manu rusi’a yare uleu uleu `o
Manu yasamma yare uleu-uleu `o
Talano utala yare uleu-uleu `o
Melano lette tuttua murine
Yami malawan sua mena miyo
Yami malawan sua muri neyo
(Kami Patasiwa
Kami Patalima
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Semua turun ke kota Saparua
Berperang dengan Kompeni Belanda
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Menjaga dan mempertahankan
Semua pulau-pulau ini
Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap
Mari pulang semua
Ke kampung halaman masing-masing
Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)
Sudah pulang-sudah pulang
Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)
Sudah pulang-sudah pulang
Ke kampung halaman mereka
Di balik Nunusaku
Kami sudah perang dengan Belanda
Mengepung mereka dari depan
Mengepung mereka dari belakang
Kami sudah perang dengan Belanda
Memukul mereka dari depan
Memukul mereka dari belakang)

Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat  Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu  Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi  berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak.  Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16  Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di  tiang gantungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar