Minggu, 08 Mei 2011

Bahagian 5: Keajaiban yang berlaku ketika tentera Russia memerangi Afghanistan

Bahagian 5: Keajaiban yang berlaku ketika tentera Russia memerangi Afghanistan



As-syahid Fauzi, mujahidin Tanah Melayu
 
Setiap kali terkenangkan keperitan dan kesungguhan seorang mujahid bergerak menuju medan jihad, riak jernih akan mengalir laju melepasi kelopak mata. Rindu, bangga dan impian untuk bersama-sama mereka terus mekar dalam diri.
Siapa yang tidak rindu bila dapat bertemu dengan sang Pencipta dalam keadaan yang paling mulia. Di dunia digelar terroris oleh musuh-musuh Islam, disisi Allah dan penghuni langit merekalah yang selalu disebut-sebut. "Siapa yang tidak kenal si polan bin si polan, mereka lebih rindukan akhirat berbanding dunia, oh! jika aku diberi kesempatan, aku mahu jadi manusia dan ingin bersama mereka" kata salah seorang penghuni langit.
Afganistan, bumi syuhada yang mendapat kemenangan keatas Rusia suatu ketika ini merupakan tempat berlepasnya para syuhada terbang menuju Kekasih abadi. Bumi yang menjadi pilihan para pencinta syahid ini juga telah menobatkan seorang syuhada dari bumi Malaysia yang menjadi pilihan Allah. As-syahid Fauzi berasal dari Kedah merupakan seorang yang tidak berpendidikan tinggi dan pengusaha kedai runcit secara kecil-kecilan. Riwayat hidupnya bukan seperti Tun P.Ramlee, Dali Mokhtar atau Tunku Abdul Rahman, yang dijunjung setelah pemergian mereka, bahkan hanya dikenal oleh penduduk kampungnya dan jika tidak di bukukan kisahnya, siapa pun tidak akan mengenalinya.


Peristiwa-peristiwa pelik sering terjadi keatas mujahid-mujahid ini menunjukkan perjuangan mereka berada atas landasan yang diredhai Allah. Kisah yang diceritakan yang berlaku keatas mujahid Fauzi membuktikan segalanya. Mimpi didatangi bidadari seperti yang dialami mujahid Fauzi merupakan alamat yang biasa di alami oleh mana-mana mujahid di medan tempur. Jual beli yang diusahakannya tidak sia-sia apabila dagangnya dibeli Allah ketika usia baru mencecah 27 tahun.

Tanda Kesyahidan

"As Syahid Fauzi gugur di kubu itu dan rakannya yang parah dibawa turun untuk mendapat rawatan. Walaupun hampir 10 jam jenazah beliau berada di atas bukit itu, darah merah masih segar bugar dan panas mengalir.

"Jangan kamu mengira bahawa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (QS Ali Imran: 169)

Manakala ibu-bapanya di kampung pula, telah dipertemukan Allah dengan anak lelaki mereka bergelar syuhada itu melalui alam mimpi. Mimpi mereka lebih mendahului berita dari manusia. Wajah anak mereka tersenyum sayang dengan berjubah dan berserban merah. Mengertilah mereka bahawa dagang anaknya telah dibeli Allah dan tentunya mereka juga akan mendapat imbuhan dari pelaburan yang termahal ini.
Apabila ditanya kepada bapanya tentang anaknya itu, beliau menjawab:

Dia tak mahu dunia. Dia tinggalkan kedai dan motornya untuk cari akhirat. Sekarang dia dah dapat... saya bersyukur." Dipetik dari buku Memoir Jihad Anak Melayu di Afghanistan
Dari Abu Hurairah ra., ditanyakan, "Wahai Rasulullah, amal apakah yang menyamai pahala jihad di jalan Allah?” Baginda menjawab, “Kalian tidak mampu melakukannya.” Maka diulangi pertanyaan itu dua kali atau tiga kali. Setiap pertanyaan itu dijawab Baginda, “Kalian tidak mampu melakukannya.” Kemudian Baginda bersabda, “Mujahid di jalan Allah itu seumpama orang yang berpuasa, yang mengerjakan shalat, dan yang membaca Qur’an, dimana ia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga sang mujahid pulang dari medan pertempuran.” [HR. Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi]
Bahagian 5, bahagian akhir kisah keajaiban-keajaiban yang terjadi dimedan tempur yang dialami dan diceritakan oleh para mujahidin. Moga kisah yang dipaparkan menjadi pemangkin semangat penyambung rantai-rantai perjuangan yang ditinggalkan Rasulullah SAW dan para perindu bidadari.
 
Bahagian 5 (Akhir)
Allah memberi rezeki tanpa diduga-duga
Allah SWT berfirman: ".Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS Ath-Thalaaq: 2-3)
Asadullah, Faruq, dan Sami'ullah bercerita kepada saya. Katanya, "Kami mengadakan serangan ke desa Basyt yang dikuasai kaum komunis. Kekuatan kami terdiri dari 70 orang mujahidin. Sesudah operasi usai, ternyata tidak seorang pun dari kami yang tewas atau cedera. Namun tenaga kami rasanya habis terkuras, dan laparnya tidak tertahankan lagi karena kami sudah dua hari tidak makan. Mau kembali ke kamp rasanya sudah tidak sanggup lagi. Akhirnya kami berdoa kepada Allah Ta'ala supaya kami diberi rezeki dari sisi-Nya.

Seusai berdoa, Jul Ar-Rahman pergi mencari air minum. Sewaktu tengah mencari air minum dia menemukan sebuah pinggan tertutup, maka dibawa pulanglah pinggan tersebut. Kami membuka pinggan itu dengan pisau, dan ternyata pinggan tersebut berisi keju sapi. Kami sempat merasa khawatir kalau-kalau keju itu beracun. Lalu Hasyim berkata, "Biarlah saya yang memakannya dahulu. Kalau saya mati, kalian jangan memakannya." Lalu Hasyim memakan keju itu, dan ternyata tidak apa-apa. Maka kami semua memakannya, dan kami benar-benar bersyukur atas karunia dan kemurahan Allah Ta'ala itu".

Singa Konar, Asy-Syahid Jul Ar-Rahman
Seorang pemuda belia yang baru berusia 18 tahun atas ijin Allah telah membunuh lebih dari 50 orang komunis dalam sehari. Ia memulai perang jihadnya sejak umur 10 tahun hingga tahun 1986. Sukses pertamanya di medan perang ialah menanam ranjau dan berhasil menghancurkan tank musuh. Pada waktu itu usianya masih 10 tahun. Jul Ar-Rahman adalah singa yang bertubuh manusia. Asadullah, Komandan Kamp berkomentar tentang Asy-Syahid, "Belum pernah saya melihat seorang mujahid di Afghanistan yang lebih berani dari Jul Ar-Rahman".
Pada suatu hari ia berhasil menawan seorang tokoh komunis. Lalu ia berkata kepada tawanan itu, "Saya lelah, gendonglah saya". Tawanan itu lalu menggendongnya hingga setengah perjalanan. Lalu Jul Ar-Rahman turun dari gendongan dan menembak tokoh komunis itu. Pada hari kedua, di bulan April 1986, kaum komunis mengadakan serangan dahsyat ke Kamp Usamah bin Zaid dan berhasil mendudukinya. Namun para singa mujahidin itu tidak sudi meninggalkan kedudukannya di puncak kampnya. Lima tokoh pemberani kamp itu, yakni Asadullah, Jul Ar-Rahman, Ja'far, Syir Muhammad, dan Mustaqim bertahan menghadapi pasukan Rusia".
Mereka mulai membersihkan kamp dari orang-orang kafir Rusia, dari satu puncak ke puncak lainnya, sehingga kaum komunis berhasil dihalau semua. Pada puncak sebuah pegunungan, ketika Jul Ar-Rahman sedang melempar granat, ia terkena tembakan yang menewaskannya. Namun dari jarak 20 meter musuh melihatnya seperti seorang yang sedang melempar sesuatu ke arah mereka sehingga mereka tidak berani mendekatinya.

Asadullah selanjutnya bercerita, "Jul Ar-Rahman tewas sewaktu shalat Ashar. Sesudah shalat Maghrib, sekitar 4 jam kemudian, kami datang hendak membawanya. Namun ia tetap saja seperti orang yang sedang melempar granat, badannya tidak jatuh telentang atau tengkurap, seperti halnya orang yang mati tertembak. Kami merebahkan tubuhnya. Ia terlihat seperti seorang yang tidur, sementara wajahnya cerah, kedua bibirnya seolah-olah tersenyum manja. Belum pernah saya melihat seorang Syahid seperti dia. Semoga Allah mengampuni Singa Konar itu, dan memberikan kami gantinya yang lebih baik, lebih berani, dan lebih taat dari Asy-Syahid.

Singa Kaum Anshar dari Pakistan

Syaiful Islam bercerita kepada saya. Katanya, "Saudaraku seiman dan seislam, Nasrullah Manshur adalah seorang pelajar, keluaran Sekolah Pendidikan Al-Quranul Karim di desa Maltsaman. Dia seorang mujahid sejak empat tahun lalu. Pada tanggal 4 Mei 1986, Nasrullah sedang mengendarai mobil rampasan perang dari Paktia yang mengangkut keperluan logistik ke Spidar Nari. Setiba di Spidar Nari, ia mendengar deru pesawat terbang, lalu ia memerintahkan kedua saudaranya, Husein Ahmad dan Muhammad Najid supaya mendaki gunung yang ada di sisi jalan untuk mengamati pesawat itu.

Pergunungan dan cuaca sejuk menjanjikan cabaran buat mujahid yang ingin berjuang di Afghanistan  

Setiba di puncak gunung, keduanya melihat pesawat itu sedang mendaratkan pasukan. Maka kontak senjata pun tidak bisa dielakkan antara Nasrullah yang hanya bersenjatakan Klashenkov dan RBG. Ia menembaki pasukan musuh dan kedua pesawat yang mendaratkannya.

Namun pesawat itu menghujaninya dengan tembakan membabi buta, sehingga di dekat matanya terkena beberapa buah tembakan peluru Dushka hingga tembus ke bawah telinganya. Pahanya pun tertembak sehingga memecahkan tulang pahanya , dan pundaknya terkena pecahan mortir. Musuh berusaha untuk menangkapnya dalam keadaan hidup, namun Nasrullah berusaha melawan mati-matian sehingga berhasil membunuh 14 pasukan komando musuh. Nasrullah luka parah dan berhasil diselamatkan, ia lalu dibawa ke rumah sakit di Peshawar untuk mendapatkan perawatan.

Karamah di berbagai pertempuran di Jajee, Ramadhan 1406H

1. Sekawanan burung melindungi kami!

Saya melihat dengan kedua mata kepala saya di Jajee, musuh ganas sekali menyerang kami, sehingga memaksa kami berlarian mencari perlindungan di balik pohon untuk menghindarkan diri dari tembakan dan pecahan bom musuh. Al-Amir Sayyaf berkata kepada saya, "Lihatlah, ada sekawanan burung terbang di bawah pesawat tempur musuh". Pada hari kedua, saya melihat pesawat terbang musuh datang lagi. Saya melihat benda hitam di bawahnya, lalu saya mengingatkan kawan-kawan, "Bersembunyilah, pesawat musuh sedang menghujani kita dengan bom". Mereka berkata, "Yang ada di pesawat terbang musuh itu adalah burung-burung "mujahidin" berseragam hitam!"

2. Angin kencang datang tatkala diserang musuh

Kaum mujahidin dihujani peluru dan bom musuh yang beratnya sekitar satu ton sehingga berhasil memancarkan beberapa mata air dari dalam tanah, sementara peluru roketnya juga tidak mau ketinggalan beraksi. Pesawat-pesawat terbang musuh juga banyak yang menurunkan pasukan komandonya di puncak-puncak gunung. Mereka menaburi Kamp dan jalan-jalan yang biasa dilalui kaum mujahidin dengan ranjau-ranjau dan bom waktu, yang setiap saat bisa meledak dengan dahsyat. Pada waktu itu kaum mujahidin merasa tersepit benar, persis seperti yang dilukiskan Al-Quranul Karim :

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat" (QS Al-Ahzab: 10-11)

Pada saat-saat sulit dan mengerikan itu, rahmat Ilahi datang dengan mengirimkan angin kencang yang sebelumnya belum pernah dialami oleh kaum mujahidin. Ini terjadi pada pertengahan bulan Desember, ketika tumpukan salju sudah mencapai ketinggian dua meter. Pada waktu itu angin menumbangkan beberapa pohon dan menghalau dinginnya udara hingga ke daerah Peshawar, sehingga para mujahidin bisa menyelamatkan diri. Mengenai hal ini saya jadi teringat firman Allah SWT :

"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa" (QS Al-Ahzab: 25)

Orang-orang berseragam putih

Sayid Umar, Panglima Kamp Jajee, Musa Khan, Panglima Pasukan, dan wakil Ikhlash, komandan salah sebuah front bercerita kepada saya. Katanya, "Banyak pasukan Afghanistan yang melarikan diri ke daerah mujahidin. Mereka bercerita macam-macam tentang apa yang dilihat dan dialami di medan laga. Salah seorang dari mereka bercerita kepada kami seolah-olah cerita khayal.

Katanya, "Ketika pasukan tank Rusia sedang berderet di pusat Qarar Gha, dan pada waktu itu kami tengah berada di sekitarnya, tiba-tiba ada seorang berseragam putih menyandang senjata RBG menembaki tank-tank itu, dan hanguslah seketika empat buah tank.

Kejadian itu terjadi pada pukul tiga siang hari. Sesudah melakukan tembakan, orang berseragam putih itu pergi dengan tenang dan aman. Kami memberondongnya dengan berbagai senjata otomatis, tetapi ia tidak terkena sebutir peluru pun. Sesudah dua atau tiga jam kemudian, ia pun datang kembali, lalu ia menembaki dua tank lagi. Kemudian ia mengeluarkan sebilah pisau dari pinggangnya dan menghampiri tempat berkumpulnya pasukan Rusia, lalu ia menyembelih dua orang yang ada di situ dan membawa pergi kepala mereka dengan tenang dan anggun, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Maha benar firman Allah Ta'ala :

"Ya (cukup). Jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah membantumu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda" (QS Ali-Imran: 125)

Mereka bukan manusia

Jamal Nasir, Panglima daerah Aju di Badkhasyan berkata kepada saya. Katanya, "Kami berada dalam rombongan yang hendak menuju ke Badkhasyan. Dalam perjalanan, ketika kami melintasi Baghlan, di Dari-Walyah, kami dihadang oleh pasukan Rusia yang besar sekali jumlahnya. Pesawat terbangnya mulai menghujani kami dengan senapan mesin dan berbagai senjata yang mematikan. Di samping menghadapi pesawat terbangnya yang sedang mengganas itu, kami juga harus menghadapi pasukan infanterinya yang sudah mengepung mati kedudukan kami. Kami melawan kepungan musuh itu selama 12 hari.

Tiba-tiba seorang utusan Rusia datang kepada kami dan menawarkan suatu cara damai. Katanya, "Kami siap membukakan jalan kepada kalian untuk meneruskan perjalanan, dengan syarat 30 tawanan yang kalian tangkap dikembalikan".

Kami lalu menjawab dengan nada heran, "Kami tidak pernah menangkap seorang Rusia pun. Yang kami tahu, mereka hanyut oleh arus yang melanda lembah itu, sesudah hujan lebat beberapa hari lamanya". Dalam pembicaraan dengan kaum mujahidin itu, delegasi Rusia berkata, "Lima ratus tentara rusia tewas dan dua pesawat tempurnya jatuh, disamping itu tiga puluh pasukan hilang".Pada waktu itu orang Rusia sampai-sampai beranggapan bahwa para mujahidin bukan manusia, tetapi sebangsa jin. 

sumber : http://the4thengineer.blogspot.com/2010/07/bahagian-2-keajaiban-yang-berlaku.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar