Minggu, 22 Mei 2011

Hisyam bin Abdurrahman, Sengketa Tiga Saudara

Kisah Para Khalifah: Hisyam bin Abdurrahman, Sengketa Tiga Saudara


REPUBLIKA.CO.ID, Menjelang wafatnya, Khalifah Abdurrahman Ad-Dakhil, menempatkan tiga putranya sebagai gubernur di kota besar terkenal saat itu. Putra tertuanya, Sulaiman, menjabat sebagai Gubernur Toledo. Putra keduanya, Hisyam, menjabat sebagai Gubernur Merida. Sedangkan putra bungsunya, Abdullah, menjabat sebagai sebagai Gubernur Valencia—sebuah kota pelabuhan yang cukup ramai.

Meskipun Hisyam lebih muda, namun dialah yang ditunjuk sebagai putra mahkota menggantikan ayahnya. Ketika sang ayah wafat, Gubernur Hisyam segera berangkat meninggalkan Merida menuju Cordoba.

Ia pun segera menerima baiat dari para pembesar ibukota dan dinobatkan sebagai khalifah kedua Daulah Umayyah di Andalusia. Dalam sejarah, ia dikenal dengan sebutan Hisyam I, yang memegang kekuasaan dalam usia 23 tahun.

Merasa dirinya putra tertua, Sulaiman tidak menerima sang adik dinobatkan sebagai khalifah. Ia merasa dirinya lebih berhak. Niatnya untuk memberontak semakin besar saat Gubernur Valencia Abdullah, memberikan dukungan. Abdullah datang ke Toledo dengan pasukan perang.
Mendengar aksi itu, Khalifah Hisyam segera menyiapkan pasukan dan berangkat menuju Toledo. Ia mengepung kota yang terkenal kokoh itu. Gubernur Sulaiman menggunakan kesempatan itu untuk berangkat ke Cordoba yang menurutnya kosong. Ia berharap petinggi ibukota segera membaiatnya.
Sulaiman menyerahkan pimpinan kota pada adik dan putranya. Ia sendiri berhasil keluar dari kepungan pasukan Khalifah Hisyam dengan diam-diam. Bersama pasukan kecil ia berangkat ke Cordoba.
Namun sayang, keinginannya untuk memasuki Cordoba gagal. Penduduk kota itu masih setia pada Khalifah Hisyam. Gubernur Sulaiman terpaksa kembali ke Toledo.
Pengepungan berlangsung selama dua bulan. Karena tak membawa hasil, akhirnya Khalifah Hsiyam memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Cordoba. Namun demikian, ia sudah berhasil menunjukkan kekuatannya pada saudara tuanya, Sulaiman.

Sementara itu, Gubernur Abdullah pun kembali ke Valencia. Ia berpikir ulang untuk memusuhi saudaranya itu. Akhirnya ia memutuskan untuk berdamai. Bersama pasukannya ia berangkat ke Cordoba. Niat baiknya diterima oleh Khalifah Hisyam.
Namun Gubernur Sulaiman tetap bersikeras tak mau berdamai. Karena itu, Khalifah Hisyam segera mengerahkan pasukan di bawah pimpinan putranya, Muawiyah. Pertempuran pun pecah. Gubernur Sulaiman terdesak. Ia pun melarikan diri ke Valencia dan menyusun kekuatan bersama suku Barbar.
Lambat laun, Sulaiman merasa tidak sanggup menghadapi saudaranya itu. Berlangsunglah perdamaian. Sulaiman bersedia keluar dari Andalusia menuju Afrika Barat dan menetap di sana bersama suku Barbar. Dari Khalifah Hisyam ia menerima 60.000 dinar sebagai bagian dari hak warisnya. Ia pun menetap di daerah Maroko bersama pendukungnya.
Pada 788 M, di kota Saragossa dan Uesca di wilayah Aragon, muncul pemberontakan. Aksi ini bermula dari kota Barcelona yang digerakkan oleh Matruh bin Sulaiman.
Setelah berhasil mengatasi konflik dengan dua saudaranya, Khalifah Hisyam segera mengutus Panglima Ubaidillah bin Utsman untuk mengepung Saragossa. Matruh bin Utsman berhasil ditangkap dan dibunuh.
Selain berhasil memadamkan pemberontakan-pemberontakan itu, Khalifah Hisyam juga mampu menciptakan keamanan dan ketertiban. Kebijakannya yang baik membuat para sejarawan sering menyandingkannya dengan nama Umar bin Abdul Azis.
Khalifah Hisyam juga menyelesaikan pembangunan Masjid Agung Cordoba yang dirintis ayahnya. Jasanya yang terbilang adalah pesatnya perkembangan ilmu dan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi.

Khalifah Hisyam wafat pada usia 31 tahun. Masa pemerintahannya berlangsung selama 7 tahun 7 bulan. Kendati demikian, namanya tetap harum dan menjadi buah bibir penduduk Andalusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar