Sabtu, 07 Mei 2011

MUTIARA SASTRA SUFI , DIWAN-DIWAN HAFIZ (1320-1390 M)

MUTIARA SASTRA SUFI
DIWAN-DIWAN HAFIZ (1320-1390 M)

Abdul Hadi W. M.

1
Pipi bersimbah mawar, tudung molek
Kembang bumi, ah itu sudah cukup bagiku!
Rindang bayang cemara, yang nyusut dan ngembang
Di padang, Itu saja sudah cukup bagiku.
Aku bukan pencinta kemunafikan:
Dari segala kekayaan yang dibanggakan dunia
Hanya anggur secawan kujunjung tinggi
Dan itu sudah cukup bagiku.


Bagi mereka yang harum namanya sebab bijak
Adalah istana di sorga pahalanya
Tapi bagiku, pemabuk dan penadah rahmat Tuhan
Beri saja menara Anggur menjulang!
Di tepi sungai aku ‘kan duduk, beralas babut rumput
Hidup, di puncak nikmat, kubiarkan melenggang pergi
Dan hari-hari yang remeh ini tak kupeduli
Dan itu sudah cukup bagiku.


Lihat segala emas di pasar dunia
Lihat segala air mata yang disemburkan dunia
Tidakkah itu cukup bagi hatimu rindu?
Aku telah banyak kehilangan, namun banyak pula yang kudapat
Kumiliki cinta, kugenggam erat, apa lagi
Yang dapat kuperoleh? Kekayaanku adalah rasa nikmat
Bersahabat dengan dia, yang bibirnya merah merekah
Dan begitu berahi mengecup bibirku.


Kumohon jangan bawa hatiku telanjang
Dari rumah hinanya menuju sorga!
Walau langit dan bumi akan membuka gulungannya
Rohku akan terbang balik menuju rumahku
Dan di pintu kismet Hafiz pun terbaring
Tiada keluh di bibirnya – jiwanya bagai air jernih.
Sebuah lagu terdengar lalu lenyap dari telinganya
Dan itu sudah cukup bagiku


3
Kemurungan dan kegembiraan akan datang
Dengan bangga akan memamerkan rasa persaudaraannya
Tak beda milih yang satu di antara yang lainnya
Kelak kau akan tersiksa juga olehnya
Siapa tahu rahasia Tabir? Coba buka!
Sorga saja membisu dan bersama Tuhan
Menggenggam tirai itu erat-erat
Wahai pembual, hati-hatilah kau bicara


Walau hamba-hamba Tuhan kehilangan jalan dan sesat
Melalui derita akan diajarinya ia kearifan
Segala ampunan dan kasih sayang
Adalah kata-kata kosong tanpa makna
Pemabuk ini hanya inginkan anggur Telaga Kautsar
Dan Hafiz, lihat! Untukmu telah terhidang
Cawan bumi, rahmat pilihan dari Tuhan!

6
Tapi apa yang kauharapkan dariku
Aku ini orang mabuk, jangan harapkan dariku
Aku telah meneguk anggur dari cawannya
Sejak hari Alastu, sejak aku mengambil wuduk
Di telaga asyik masyuk
Lalu kutakbirkan empat kali
Kolong langit atas segala yang ada ini
Karena itu jika kau inginkan
Rahasia ketentuan yang menyebabkan aku linglung dan mabuk
Hidangi aku gelas putih cawan anggur cerlang
Hingga gunung menjadi lebih ringan dari nyamuk


Wahai Saqi, pemuja anggur
Biarlah mulutmu berbusa penebus nyawamu
Di taman penglihatanku kebunku tak menumbuhkan alam
Yang lebih indah dari duri di tengah bunga
Tidaklah tenteram hidup di bawah kolong langit ini
Tanpa Tuhan, tanpa anggur-Nya
Bagai sekuntum kembang layu terkulai
Disapu angin derita


Tuhan, Hafiz rindu kepada-Mu
Lebih dari nabi Sulaiman
Hafiz rindu pada-Mu walau tangannya
Tak mendapat apa-apa kecuali angin
Hafiz rindu kepada-Mu



7
Mari, mari! Mari, cita-cita yang pendek
Yang rapuh sendinya, tuang seteguk anggur dalam gelasmu
Mari. Mari minum anggur Tuhan
Tulang belulang usia terbang melintas angin
Mari, mari! Jangan pada dunia ini
Kau harap meneguh janji
Jangan pada si tua bangka ini kau taburkan cinta
Dia telah menjanda seribu kali
Mari, mari!


Ah, apa yang kubilang padamu ini
Malaikat gaib telah membisikkan padaku semalam
Ketika aku mabuk Tuhan tak sadarkan diri
Wahai elang yang ingin melayang tinggi
Jangan dirimu terikat cuma di tikar sembahyang
Dan badanmu terkurung dalam zawiyah tempat berzikir
Bukan di sini tempatmu. Bukan
Tapi terbanglah tinggi
Teguk anggur, terbang
Minum, minumlah anggur Tuhan!


Terompet sangkala berbunyi
Apa kau dengar, dari Arasy ia memanggilmu
Karena itu jangan terlalu lama duduk di sini
Ayo terbang, terbang tinggi
Bersama Hafiz yang karam dan khusyuk ini
Ayo terbang, terbang tinggi!




10
Saqi, bangun!
Ayo gilirkan gelas anggur sanjungan mereka
Sebermula cinta tampak seakan perkara mudah
Namun begitu dijalani kakiku terseok dalam kesukaran

Telah kumohon angin, agar menghamburkan
Semerbak kesturi dari rambutnya yang sedang tidur
Ke hatiku. Malam sepi, tak tercium wewangian
Airmata darah mengalir dari hatiku yang ngilu

Penjaga kedai anggur mengajarimu kearifan,
"Karamkan tikar sembahyangmu dalam kekhusyukan!"
Tiada ternyata penempuh jalan yang seperti dia
Lika-liku lorong dikenalnya, pun tempat berteduh yang nyaman

Di situ aku pun istirah, bila malam senyap datang
Pintu rumahmu jauh, o Hati dari hatiku!
Genta kafilah berkeleneng, keluh kesah terdengar
"Ayo ikat lagi muatanmu dan berangkat!"

Ombak membubung tinggi, malam bermendung kecemasan
Dan air berpusar riuh serta gemuruh
Suaraku karam, bagamana dapat kuketuk telinga mereka
Yang telah tiba di pantai dengan kapal sarat muatan?

Kapalku sendiri kulihat, tahun-tahun bocor dan boros
Hanya ini muatan yang dibawa, sebuah nama ejekan
Baju apa yang mesti dikenakan atas deritaku
Bila mereka yang gemar mengejek membuatku marah dan malu?

Oh Hafiz, jangan lagi dengan dirimu bertikai
Pegang erat kata-kata si Bijak:
"Jika hasrat hidupmu telah terpenuhi
Campakkan dunia, singkirkan darimu!"



11
Tidur dalam matamu, bagai kembang badam
Bersinar-sinar – Jatuh pun tak sia-sia!
Dan tidak si
Rambutmu yang basah -- Tidak sia-sia!

Sebelum madu susu di bibirmu kering
Ya kukatakan, "Bibir tempat garam pelipur lara
Berada, yang manisnya bercampur kata ejekan"
Ya, dan itu semua tidak sia-sia

Mulutmu adalah sumber air hayat mengalir
Di bawahnya sumur yang dalam berceruk-ceruk
Dan ajal yang tak begitu jauh dari hidup
Pencintamu tahu dan tahu tidaklah sia-sia

Tuhan mengirim hari-hari penuh berkah kepadamu
Lihat, bukan demi dirinya semata hamba-Mu berdoa
Pemanah meletakkan anak panah Cinta di busur lengkung
Ya, aku pun tahu tak ada panah yang sia-sia

Apa kau ini terganggu oleh kesedihan dan duka
Disebabkan beban berat kaupikul di pundak?
Tangis dan airmatamu o Hati yang berduka
Tidak sia-sia, sungguh semua itu tidak sia-sia!

Semalam angin bertiup dari rumahnya
Dan bertamasya menyusur jalanan di taman
O Mawar, kain baju di dadamu telah koyak
Tercabik dua -- namun itu tak sia-sia

Dan Hafiz! Walau hati dalam dirimu mati
Keperihan cinta selalu kausembunyikan
Dari pandangan mata liar. Tak sia-sia airmatamu
Tak sia-sia kerling matamu, tak sia-sia!


(Terjemahan Abdul Hadi W. M.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar