Minggu, 01 Mei 2011

Rabi'ah Al-Adawiyah

Rabi'ah Al-Adawiyah  

(Dari Makalahku  : Banyu Bening)

Penelusuran Mahabbah Menurut Rabi'ah Al-Adawiyah

Riwayat Hidup dan Selintas Kota Bashrah
Rabi`ah al-`Adawiyyah (selanjutnya disebut Rabi`ah) diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M dan wafat 185 H/801 M. Tentang tahun kelahirannya ada sumber yang menyebutkan berbeda. Menurut Ibrahim Zaki Khursyid dkk., bersamaan dengan Hasan Bashri mengawali halaqah atau majlis ta`limnya.
Nama panjang beliau Ummul Khayr binti Ismail Rabi’al al-Adawiyyah al-Basriyyah.

Beliau dilahirkan di suatu perkampungan di luar Bashrah (Irak). Disebut al-Bashriyyah, sebab mengacu kelahiran dan kelamaan tinggalnya di kota Bashrah, hingga wafatnya. Kedua orang tuanya dari keluarga fakir dan sudah meninggal saat Rabi`ah muda. Tak ada data akurat umur Rabi`ah, saat kedua orang tuanya wafat.
Menjelang dan lahirnya Rabi`ah serta masa kanak-kanaknya, kota Bashrah sedang dalam keadaan kelaparan dan kekacauan, baik dari segi ekonomi maupun sosio-politik. Dikisahkan kota Bashrah telah cukup lama dikuasai oleh pasukan Islam pada masa Khalifah `Umar bin al Khattab (memerintah 634 - 644 M). Sudah lama Bashrah merupakan kota pelabuhan yang ramai dan makmur di Teluk Persia. Karena Bashrah merupakan tempat pertemuan beberapa ras dan suku bangsa. Oleh karena itu, terdapatlah akulturasi dan perbenturan banyak aliran pemikiran dan keyakinan.

Bashrah memang merupakan sebuah kota yang telah beberapa kali terkait dengan peristiwa besar. Sebelum terjadi perang Jamal, 36 H/657 M, `Aisyah, Thalhah bin `Ubaydillah dan Zubayr bin `Awwam telah pergi terlebih dahulu ke al-Kharibat, dekat Bashrah untuk mempersiapkan bala tentaranya. Persaingan dan pertentangan di kota Bashrah semakin diramaikan oleh keberadaan markas orang-orang Khawarij, di Batha`ih, dekat Bashrah. Masa awal Khawarij dikenal sebagai pemberontak dan pengacau, termasuk di daerah Bashrah. Bashrah juga pernah didatangi oleh `Abdullah bin Saba’ yang memprogandakan konsepsi `al-washiyah` dari Nabi Muhammad SAW. kepada `Ali bin Abu Thalib, sampai ada issue, bahwa pada diri `Ali bin Abu Thalib ada unsur ketuhanan dan sekaligus Tuhan bersatu dengan atau pada diri `Ali bin Abu Thalib dengan jasmaninya.
Saat Walid bin `Abdul Malik menjabat Khalifah VI (86-96 H/705-715 M) pada Daulah Bani Umayyah, dia mengangkat Hujjaj bin Yusuf menjadi Amir (prince) untuk wilayah belahan timur yang berkedudukan di Bashrah. Dan waktu Zahir bin Shasha, gubernur wilayah Sind membebaskan diri dari kekuasaan pusat, Damaskus, maka hal ini menyebabkan kapal dagang dari Cina dan Asia Tenggara sering dicegat dan dirompak, dalam perjalanan menuju Teluk Persia, pintu masuk pelabuhan Bashrah dan Laut Merah Selatan (Aden). Hal ini semakin membuat bencana dan malapetaka bagi kemakmuran dan perdagangan kota Bashrah.
Sulayman bin `Abdul Malik, Khalifah VII (96-99 H/715-17 M) membebaskan seluruh tahanan politik yang sebelumnya ditahan oleh Hujjaj bin Yusuf. Khawarij dan Syi`ah memperoleh kebebasan kembali dan keleluasaan sepak terjang untuk selalu bergerak di bawah tanah. Puncaknya pada pergantian musim panas tahun 717 M ke musim gugur, Khalifah Sulayman bin `Abdul Malik wafat dan diganti `Umar bin `Abdul `Aziz (99- 101 H/717-720 M), Khalifah VIII, yang terkenal dengan program kebijaksanaan al-Tarbi’, pengakuan terhadap 4 (empat) khalifah Rasyidin dan penghentian kutukan dan celaan atau caci maki terhadap `Ali bin Abu Thalib saat khutbah Jum`ah. Hanya `Umar bin `Aziz-lah, Khalifah VIII, yang dikenal shaleh pada Daulah Bani Umayyah. Dia memperbaiki hubungan pemerintah dengan golongan oposisi. Pertimbangannya memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam, lebih baik daripada menambah perluasan wilayah. Kelonggaran ini menimbulkan ekses yang dimanfaatkan oleh keluarga Bani Hasyim, yang didukung oleh para mawali. Di Kufah, dipimpin oleh Muhammad bin `Ali bin `Abdullah bin `Abbas menyusun gerakan rahasia dan di Khurasan oleh Abu Muslim al-Khurasani. Pada tahun-tahun itulah diperkirakan Rabi`ah lahir, atau masa kecilnya.

Di kota Bashrah sudah mulai ada halaqah, pengajian yang dirintis oleh Hasan Bashri. Tak ditemukan data akurat, Rabi`ah pernah mengikuti halaqah tersebut dan berguru kepada seorang syaikh atau seorang guru. Namun menurut A. J. Arberry, dia murid tokoh zahid, yaitu Abu Sulayman ad Darani. Boleh jadi, waktunya habis untuk mencari nafkah dengan menyeberangkan orang, atau kalau tidak, ‘uzlah sendirian di mushalla. Sebab meski orang tua Rabi`ah fakir, pendidikan agama pada keluarga itu sangat dipentingkan. Rabi`ah telah terbiasa terdidik dengan akhlak mulia. Sejak kecil Rabi`ah selalu ikut kegiatan ibadah orang tuanya, baik itu ibadah mahdlah atau hanya sekedar membaca al-Qur’an dan berzikir.
Sesudah wafatnya `Umar bin `Abdul `Aziz, kota Bashrah mengalami kesulitan dan bencana alam, hingga mengakibatkan kelaparan sebagian besar penduduk Bashrah. Ini diperparah oleh pencurian dan perampokan. Bashrah memang sering tidak aman. Lebih-lebih menjelang keruntuhan Daulah Bani Umayyah. Banyak kekacauan dan bencana yang disulut orang-orang Syi`ah, Khawarij dan anak keturunan `Abbas, paman Nabi. Pada perempat pertama adad II H, Daulah Bani Umayyah kehabisan akal untuk mengatasi kekacauan. Keadaan tersebut makin diperparah, ketika Bashrah dilanda kemarau panjang selama setahun dan berkembang menjadi bencana kelaparan yang amat hebat. Akibat lebih buruknya bagi Rabi`ah yang miskin, terpisah dengan saudara-saudaranya.
Ada beberapa versi tentang keadaan setelah orang tua Rabi`ah meninggal dunia. Di antaranya, menurut Muhammad Atiyah Khamis, dia jatuh ke tangan perampok karena dihadang segerombolan penyamun, kemudian dijual dengan harga yang sangat murah, dengan 6 (enam) dirham, kepada keluarga Atik.
Kebengisan tuannya yang membuat Rabi`ah tidak bebas, menambah beban tenaga kala siang. Tapi dia tetap tegar dan kuat berpuasa. Malamnya banyak dihabiskan untuk berzikir dan berdoa kepada Allah, usai shalat malam. Hingga secara kebetulan tuannya itu melihat Rabi`ah sedang sujud dan berdoa. Tuannya melihat ada sinar di atas kepala Rabi`ah dan menerangi kamarnya. Dia ketakutan dan tidak bisa tidur sampai pagi. Esoknya, dia membebaskan Rabi`ah.

Tak ada sumber yang akurat dapat membantu untuk mengungkapkan kejadian tersebut. Menurut Abdul Mun`im Qandil, setelah berkali-kali shalat istikharah dan minta fatwa ulama, Rabi`ah menyanyi dengan iringan seruling pada majlis zikir dan malamnya dihabiskan untuk berzikir, bertasbih dan membaca al-Qur’an serta shalat tahajjud. Tak ada keterangan sampai kapan dia menyanyi. Itupun masih diperselisihkan. Rabi`ah tidak pernah kawin, sungguh pun setidaknya ada 2 (dua) orang yang sudah pernah melamarnya untuk berumah tangga.

Suatu saat Rabi`ah sakit dan disarankan berdoa agar Allah menyembuhkan. Rabi`ah menjawab, jika Allah bermaksud mengujiku dengan penyakit ini, mengapa aku harus berpura-pura tidak tahu atas kehendak-Nya? Jadi, jangankan berobat, berdoa untuk kesembuhan saja dia tidak mau. Di hari lain seorang lelaki mendatangi Rabi`ah dan mengadukan perbuatan buruknya. Dia banyak berbuat dosa dan maksiat. Kalau saya bertaubat, apakah Allah akan menerima taubatku? Rabi`ah menjawab, “Tidak, tetapi jika Allah berkenan memberi taubat, maka Allah akan menerima taubatnya”. menurut rabiah, taubat hakiki adalah suatu karunia dan taufik dari Allah. Dan taubat itu pemberian Allah, bukannya usaha orang yang berdoa.( http:www.oaseislam.com)

Pengertian dan Beberapa Batasan tentang al-Mahabbah (al-Hubb)

Secara bahasa al-mahabbah diartikan mayl al-thab` ilaa al-syay’ al-laadzdz atau suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang melezatkan/ mengenakkan.
Menurut al-Qusyayri al-mahabbah/al-hubb diambil dari kata habab (gelembung air) yang selalu di atas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Juga merupakan sesuatu yang melambung di atas air ketika hujan turun. Di atas cinta ini hati terasa mendidih dan semakin meluap saat haus serta berkobar kerinduannya untuk bertemu kekasihnya. Di samping itu, al-hubb diambil dari al-habb, sebagai bentuk jamak kata al-habbah (biji). Sedang biji hati, sebagai sesuatu yang berada dan menetap dalam hati, sehingga al-habb (biji-bijian) dinamakan al-hubb (cinta), karena yang dimaksud adalah tempatnya.
Menurut al-Hujwiri al-mahabbah/al-hubb terambil dari kata al-hibbah, merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Kata ini ditujukan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (al-hibb), karena cinta itu sebagai sumber kehidupan sebagaimana benih-benih itu merupakan asal mula tanaman.
Menurut asy-Syibli cinta itu dinamakan al-mahabbah, karena ia menghapus dari hati, segala sesuatu kecuali yang dicintainya.
Menurut al-Junaid, cinta itu kecenderungan hati. Artinya, hati cenderung kepada Tuhan dan apa yang berhubungan dengan-Nya tanpa dipaksa.
Tokoh lain menambahkan, cinta itu penyesuaian, yaitu kepatuhan atas apa yang diperintahkan oleh Tuhan, menjauhkan apa yang dilarang oleh-Nya dan puas dengan apa yang ditetapkan dan diatur oleh-Nya.
Menurut Ibn Abd al-Shamad, juga dikutip oleh al-Kalabadzi, cinta itu mendatangkan kebutaan dan ketulian; cinta membutakan segalanya, kecuali terhadap Yang Dicintai, sehingga orang itu tidak melihat apapun kecuali Dia. Menurut ulama salaf, kecintaan seseorang kepada Allah itu suatu kondisi yang dirasakan hatinya, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sementara, menurut Harun Nasution:
Al-Mahabbah adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain, yang berikut:
1. Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan padaNya.
2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi”.
Menurut Asmaran AS dalam Pengantar Studi Tasawuf:
Sesungguhnya mahabbah itu bersumber dari iman. Karena itu, dari imanlah orang dapat mencintai Allah sebagai cinta tingkat pertama, kemudian baru cintanya kepada sesuatu yang lain. Dengan demikian, berarti orang yang mencintai Allah, tidak akan mengorbankan hukum Allah karena kepentingan pribadinya. Dan sebagai konsekuensi dari cintanya kepada Allah, ia juga mencintai rasul-Nya, dan juga harus mencintai seluruh makhluk-Nya.
Asmaran As membagi al-mahabbah menjadi 3 (tiga) tingkatan
1. Cinta orang banyak (biasa), yakni mereka yang sudah kenal pada Tuhan dengan zikr, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Senantiasa memuji Tuhan.
2. Cinta para mutahaqqiqin, yaitu mereka yang sudah kenal pada Tuhan, pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain sebagainya. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dengan Tuhan. Dengan demikian ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta yang kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
3. Cinta para siddiqin dan ’arifin, yaitu mereka yang kenal betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai .
Terkait konsepsi al-mahabbah ini, ada terminologi ridlaa (kepuasan hati), syawq (kerinduan) dan uns (keintiman)

Mahabbah Menurut Rabi`ah
Rabi`ah dinilai orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah atau pelopor agama cinta ( mahabbah). Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Karena itulah ia disebut " The Mother Of The Grand Master " / Ibu para sufi besar. ( www.oaseislam.com )

Pada suatu waktu Rabi`ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rabi`ah menjawab:
Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan.Cinta muncul dari keazalian (azl) dan menuju keabadian (abad)

Ada 2 (dua) batasan cinta yang sering dinyatakan Rabi`ah.
1. sebagai ekspresi cinta hamba kepada Allah, maka cinta itu harus menutup selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta. Dengan kata lain, maka :
a., dia harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya.
b, dia harus memisahkan dirinya sesama makhluk ciptaan Allah, supaya dia tak bisa menarik dari Sang Pencipta.
c, dia harus bangkit dari semua keinginan nafsu duniawi dan tidak memberikan peluang adanya kesenangan dan kesengsaraan. Karena kesenangan dan kesengasaraan dikhawa-tirkan mengganggu perenungan pada Yang Maha Suci.
2. kadar cinta kepada Allah itu harus tidak ada pamrih apapun. Artinya, seseorang tidak dibenarkan mengharapkan balasan dari Allah, baik ganjaran (pahala) maupun pembebasan hukuman, Dan melalui jalan cinta inilah, jiwa yang mencintai akhirnya mampu menyatu dengan Yang Dicintai dan di dalam kehendak-Nya itulah akan ditemui kedamaian.( http : qoffa.wordpress.com )

Rabi`ah menyatakan 2 (dua) macam pembagian cinta, sebagai puncak tasawufnya dan dinilai telah mencapai tingkatan tertinggi dalam tahap cinta. Pembagian cinta tersebut, lariknya adalah:

أحبك حبين حب الـهوى # وحب لأنك أهل لذاكا
وأما الذي هو حب الهوى # فشغلي بذكرك عمن سواكـا
وأما الذي أنت أهل له # فكشفك لي الحجب حتى أراكا
فلا الحمد في ذا أو ذاك لي # ولكن لك الحمـد في ذا وذاكـا

Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta yang timbul dari kerinduan hatiku dan cinta dari anugrah-Mu
Adapun cinta dari kerinduanku
Menenggelamkan hati berzikir pada-Mu daripada selain Kamu
Adapun cinta yang dari anugrah-Mu
Adalah anugrah-Mu membukakan tabir sehingga aku melihat wajah-Mu
Tidak ada puji untuk ini dan untuk itu bagiku
Akan tetapi dari-Mu segala puji baik untuk ini dan untuk itu”.( hamka : hal

tasawuf Rabiah pada dasarnya ekstrim rohaniyah, maka dalam pembagian cinta, Rabi`ah-lah orang yang merintis untuk membelokkan ajaran Islam ke arah mistik yang ekstrim rohaniyah. Dialah pelopor yang memperkenalkan cita ajaran mistik dalam Islam. Dimaksud, terbukanya tabir penyekat alam ghaib, sehingga sang sufi akan bisa menyaksikan dan mengalami serta berhubungan langsung dengan dunia ghaib dan zat Allah.

Cinta Rabi`ah tidak muncul begitu saja, tanpa suatu proses. Dalam penelusuran Muhammad Atiyah Khamis,dulu Rabi`ah mencintai Allah sebagaimana lazimnya kebanyakan umat Islam, yaitu didorong karena mengharapkan surga Allah dan sebaliknya takut akan neraka-Nya. Ini ternyata jelas melalui pertanyaan doa Rabi`ah kepada Allah, yaitu … “O, Tuhan, apakah Engkau akan membakar hamba-Mu di dalam neraka, yang hatinya terpaut pada-Mu, dan lidahnya selalu menyebut-Mu, dan hamba yang senantiasa takwa pada-Mu.

Sesudah Rabi`ah menyadari bahwa landasan cinta seperti itu dianggap cinta yang masih sempit, Rabi`ah meningkatkan motivasi dirinya sehingga dia sampai luluh dalam cinta Ilahi. Artinya, dia mencintai Allah karena memang Allah patut untuk dicintai, bukan karena ketakutan terhadap neraka ataupun disebabkan mengharapkan surga-Nya.

Terus ada peningkatan lagi. Dia justru minta dibakar api neraka, jika menyembah Allah karena takut neraka dan sekaligus mengharamkan surga, kalau dia mengharapkan surga. Atas dasar cinta dalam penyembahan Allah, dia berkata, limpahkanlah ganjaran yang lebih baik. Dia minta diberi kesempatan melihat wajah Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia, hingga merasa bahagia berada dekat dengan Allah pada hari kebangkitan. mengharap keridlaan Allah saja.

إلهى لو كنت أعبدك خوفا من نارك فأحرقني بنار جهنم
وإذا كنت أعبدك طمعا في جنتك فأحرمنيها
وإما كنت أعبدك من أجل محبتك فلآ تحرمني من مشاهدة وجهك

“Wahai, Tuhan! Apabika aku beribadah kepada-Mu hanya karena takut kepada neraka-Mu maka bakarlah aku di neraka-Mu. Dan apabila aku beribadah kepada-Mu hanya menginginkan surga-Mu maka keluarkanlah aku dari surga-Mu. Tetapi, jika aku beribadah kepada-Mu hanya untuk-Mu semata, berikanlah kepadaku keindahan-Mu yang abadi “.

Begitu tingginya kadar kecintaan Rabi`ah kepada Allah hingga pada gilirannya, dia menilai tidur itu tidak saja sebagai bagian dari rangkaian mata rantai ibadahnya, akan tetapi juga sekaligus sebagai musuhnya yang telah menyebabkan berkurangnya ibadah. Bahkan dalam solatnya selama 30 tahun ia selalu berdoa " Tenggelamkanlah aku didalam kecintaanMu supaya tidak suatupunyang dapat memalingkan aku dariMu " ( http:mizakisakinah.multiply.com )

Begitu terpusatnya cinta Rabi`ah kepada Allah, pada gilirannya cinta bagi Rabi`ah adalah fanaa’ kepada Allah, hanya tertuju kepada-Nya. Cinta bagi Rabi`ah itu tenggelam dalam renungan mengenai Allah dan berpaling daripada segala makhluk, hingga tidak ada lagi dalam jiwanya perasaan marah atau benci terhadap musuh.Tujuan akir tasawufnya adalah penyatuan denganNya.

Tasawuf di tangan Rabi`ah telah menimbulkan revolusi rohani. Islam sebagai agama yang cinta iman dan amal shaleh, oleh Rabi`ah dengan 2 (dua) macam cintanya diubah menjadi cinta rindu, berzikir pada Allah, melupakan semuanya, dengan segala konsekuensinya. Tujuan hidup mencari akhirat dinilai sebagai tabir menyesatkan yang wajib dilenyapkan. Harapan surga dan takut neraka dihina sebagai pedagang mencari laba dan ganti rugi. Padahal cinta Islam adalah agar zikir, pikir untuk amal dengan etos kerja tinggi untuk membangun dunia (Q. S. Al-Baqarah: 126), diganti jadi zikir dan merenung. Zikir sebagai pengendalian diri secara bertanggung jawab digeser jadi wasilah atau sarana meditasi, menyongsong terbukanya tabir ghaib dan anugerah fanaa` fi Allah.

Menurut Ibrahim Hilal Konsep cinta Ilahi-nya Rabi`ah sangat jauh dari spirit al-Qur’an karena anggapan bahwa puncak kenikmatan tertinggi adalah penyaksian zat Yang Maha Esa serta berkomunikasi langsung dengan-Nya. Orientasi cinta Ilahi akan membuahkan perenungan tentang penyaksian zat Yang Maha Tinggi, dengan konsekuensi, antara lain, pengabaian janji dan ancaman Allah. Ini akan mengakibatkan stagnasi (kemandegan) kehidupan duniawi manusia, terhentinya proses dinamika pemikiran manusia dan kegagalan seluruh kegiatan pengajaran dan ilmu.

PENGARUH KONSEP MAHABBAH RABIAH AL-ADAWIYAH
DALAM PENGEMBANGAN TASAWUF
Pengaruh Rabî‘ah al-‘Adawiyyah dalam pengembangan tasawuf sangat signifikan sekali karena ia telah memberikan corak yang baru dalam bertasawuf. Setidak-tidaknya ada tiga kontribusi Rabî‘ah al-‘Adawiyyah dalam dunia tasawuf. Pertama, ia berhasil mentransformasikan konsep al-khawf dan al-rajâ’ dari Hasan al-Bashrî kepada mahabbah (cinta). Jadi, ia menyembah Allah swt bukan semata-mata karena takut kepada api neraka dan mengharap surga tapi ia menyembah-Nya karena cinta. Kedua, ia memberikan corak baru dalam dunia tasawuf. Walaupun, ia sangat menderita dalam hidupnya tetapi ia mampu menjadi seorang yang “kuat” dalam bertasawuf. Ketiga, dalam hal gender, ia mengubah pandangan para sejarah bahwa seorang wanita mampu untuk menjadi seorang sufi. Konsep mahabbah yang dikemukakan oleh Rabî‘ah al-‘Adawiyyah sangat istimewa sekali karena ia memberikan contoh yang sangat menarik sekali kepada kita dan relevan sepanjang masa bagaimana kita menyembah Allah swt dengan penuh ketulusan. Jadi, pada saat ini umat Islam harus belajar dari seorang sufi wanita ini bagaimana menyembah Allah swt tanpa harus takut akan neraka dan mengharap surga serta meraih kesenangan dunia semata, tetapi menyembah Allah swt dengan penuh ketulusan mahabbah (cinta).(www : iiman.co.id )


Penutup

Cinta kepada Allah dan Rasul adalah cinta rasional (hubbun `aqliyyun) atau taat, bukan cinta emosional berlebihan (laa `aathifiyyun). Memang, pada dasarnya cinta itu emosional, namun dalam Islam tetap wajib dikendalikan dalam batas nalar yang jernih. Ini akan menghasilkan rasa ikhlas bakti dan beribadah, bukan ingin menguasainya dan memuaskan emosinya. Dalam Q. S. Ali `Imran: 31 terlihat penyaluran cinta kepada Allah dan Rasul, dengan menaati-Nya dan mengikuti sunnahnya, bukan cinta yang akhirnya memunculkan ungkapan yang melewati batas, berwatak egois kerohanian dan hanya merindukan kebahagiaan pribadi. Cinta yang diajarkan al-Qur’an dan al-Hadits adalah cinta taat, yaitu cinta hormat, yang masih dikendalikan penalaran rasional, bukan didorong perasaan yang membuta. Artinya, akal manusia mendorong ketaatan karena hal itu merupakan jalan untuk mencapai tujuan hidupnya. Cinta rasional inilah yang diamalkan oleh Rasul dan para sahabat hingga ± akhir abad I H.

Konsepsi al-Mahabbah yang digagas oleh Rabi`ah, pada satu sisi sangat mendorong motivasi umat dalam ibadah untuk selalu lillaahi ta`ala, dengan menyeimbangkan hablum minallah dan mestinya jangan sampai mengurangi interaksi habulum minnnas. Namun di sisi lain, pada gilirannya nanti telah membuka peluang munculnya tasawuf falsafati yang gagasan-gagasannya lebih cenderung mengundang kontroversi umat secara umum.Lebih-lebih ajaran yang ekstrim rohaniyah ini akan menurunkan daya nalar yang kritis dan jangan-jangan dikhawatirkan terperosok ke dalam paham yang menyimpang dari syari`ah yang lurus pemahamannya.

Meski demikian wajib diakui dengan jujur, bahwa pandangan Rabiah tasawuf sangat bisa menambah kedalaman dan penghayatan spiritualitas agama, serta jadi sarana pembina akhlak karimah. Dari tinjauan ini, pengaruhnya positip sekali. jadi tidak berlebihan kalau diakhir tulisan ini kita menelaah lirik lagu dari ahmad dhani feat crisye berikut ini:

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Apakah kita semua benar-benar tulus
Menyembah padaNya
Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepadaNya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut namaNya

Bisakah kita semua benar-benar sujud
Sepenuh hati
Karena sungguh memang Dia
Memang pantas disembah memang pantas dipuja

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepadaNya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut namaNya

wallahua'lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar