Senin, 06 Juni 2011

Takudar Khan: Pahlawan Muslim Mongol yang Terlupakan

Takudar Khan: Pahlawan Muslim Mongol yang Terlupakan





Mungkin, pembaca sudah sering mendengar nama tokoh-tokoh besar kaliber dunia yang berasal dari Mongol semacam Genghis Khan, serta Tuqluq Timur Khan yang dikenal dalam dunia Islam sebagai Timur Lenk. Namun, tahukah para pembaca dengan seorang tokoh yang juga sama-sama berasal dari Mongol yang bernama Takudar Khan?.
Jarang sekali ada penulis yang mengangkat tokoh bernama Takudar Khan ini, padahal ia adalah putra pertama dari Tuqluq Timur Khan, sang penguasa Mongolia. Novel bergenre sejarah yang berlatar belakang budaya Mongolia ini termasuk salah satu novel yang berusaha mengenang kembali pahlawan Muslim yang hampir dilupakan oleh para generasi Muslim saat ini.
Alur cerita novel ini dimulai ketika Tuqluq Timur Khan melakukan sumpah “anda” dengan Syekh Jamaluddin. Sumpah ”anda” itu sendiri adalah sumpah persaudaraan khas Mongolia,dimana dua orang menyayat ibu jarinya hingga meneteskan darah kemudian disatukan. Hal itu dilakukan sebagai simbol sebuah persaudaraan sejati. Kaisar Tuqluq Timur Khan melakukan sumpah itu karena tertarik dengan ajaran Islam yang mengajarkan kedamaian dan ketentraman dalam menjalani hidup ini. Serta dia juga bersumpah untuk menjadi seorang muslim apabila cita-citanya untuk menyatukan Mongolia sudah tercapai.(Hal 14)
Akan tetapi belum sempat menepati janjinya, Timur Khan beserta Permaisuri Ilkhata dibunuh oleh orang-orang yang ada disekitarnya disebabkan ketidaksukaaan mereka melihat begitu percayanya Kaisar pada orang-orang Muslim. Akhirnya sumpah “anda” itu sendiri diwariskan kepada kedua anak mereka. Kaisar memilih Putra pertamanya Takudar sebagai penerima waris sumpah itu sedangkan Syekh Jamalluddin memilih putranya yaitu Rasyiduddin,.
Karena terbunuhnya Kaisar Tuqluq Timur Khan, maka demi menjaga terpenuhinya sumpah “anda” itu Takudar disarankan oleh Permaisuri untuk pergi melarikan diri dengan ditemani oleh Ying Chin atau Uchatadara, pelayan setia permaisuri yang berasal dari suku Tar Muleng.
Menjalani kehidupan yang selalu berada dalam intaian orang-orang yang berusaha untuk membunuhnya, membuat Takudar dan Ying Chin berganti-ganti identitas untuk menjaga keselamatan mereka. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan putra Syekh Jamaluddin yang dengan rela hati memberikan tempat persembunyian di Madrasah Babussalam, Syakhrisyabz. Selama tinggal di Syakhrisyabz inilah Takudar mempelajari ilmu agama dan menyusun sebuah rencana untuk mengambil alih kembali kekaisaran Mongol yang menjadi haknya dari tangan Arghun Khan, adiknya yang selalu dipengaruhi oleh rencana jahat Albuqha Khan.
Di dalam buku ini, selain menjelaskan liku-liku perjalanan Takudar Khan dalam menggapai puncak kekaisaran Mongol, penulis juga berhasil mempersembahkan panorama alam dan budaya Mongolia dengan pemakaian bahasa tutur dan istilah yang bisa memainkan imaji dan emosi pembaca. Begitu lihainya penulis bermain dengan kata-kata sehingga terpampang dengan jelas bagaimana tarian bielgee, nyanyian jangar, elkhendeg, serta joroo mori diiringi petikan moriin khuur dan khulsan khuur yang dibawakan oleh Urghana dan Bayduna saat menemani Kaisar Arghun Khan melakukan ekspedisi penaklukan. Dari sanalah penulis secara diam-diam memberi pengetahuan kepada pembaca akan budaya Mongolia.
Tak lupa pula penulis juga memasukkan romantika cinta segitiga antara Arghun Khan, Buzun dan Urghana. Hingga menambah bobot buku ini semakin menarik untuk dibaca. Cinta segitiga antara Arghun, Buzun dan Urghana ini dapat membuat pembaca berlinang air mata tanpa terasa. Kisah cinta dan kekejaman Arghun pada Urghana dengan menodai kesuciannya tanpa sebuah ikatan pernikahan. Hal itu dalam tradisi Mongolia merupakan bentuk penghinaan yang sangat pedih.
Serta kerinduan Urghana pada Buzun yang meninggalkanya dan pergi dari istana tanpa memberitahu terlebih dulu membuat Urghana merasa bersalah. Sebuah kisah cinta yang sangat indah, kesetiaan serta pengorbanan merupakan mutiara yang ada dalam buku ini
Namun ada beberapa hal yang dirasa kurang lengkap dari buku ini diantaranya adalah tak adanya gambar peta penaklukan yang pernah dilakukan Genghis Khan hingga dijadikan rujukan oleh Arghun Khan untuk melakukan ekspedisi dalam rangka melanjutkan kembali apa yang belum pernah dilakukan oleh Ghengis Khan yaitu menaklukkan Jerussalem.
Terlepas dari kekurangan itu, buku ini tetap layak untuk dikonsumsi bagi generasi Muslim, sejarawan (Islam), peneliti, lebih-lebih para pendidik atau Guru sejarah di sekolah Islam ataupun umum, agar tokoh yang diangkat dalam buku ini tidak hilang dari sejarah peradaban Islam. Yang pertama karena karakter tokohnya yang sangat kuat serta intrik-intrik dan konspirasi yang dipakai para tokoh dalam buku tersebut dalam menggapai keinginannya. Kedua, belum ada seorangpun penulis yang pernah mengangkat tokoh yang hampir dilupakan dalam sejarah Islam ini. Ketiga, agar tokoh dalam buku ini dapat dijadikan teladan bagi generasi muslim saat ini. Teladan dalam sikap kebijaksanaanya serta toleransinya yang tinggi terhadap penganut agama atau golongan lain, satu hal yang hilang dari bangsa yang majemuk ini.

Judul : The Road To The Empire
Penulis : Sinta Yudisia
Penyunting : Ahli Maman S. Mahayana
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Eahyn terbit : Cetakan I, Desember 2008
Tebal : 586 Halaman :20,5 cm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar