Jumat, 24 Juni 2011

Syair Sunur: Autobiografi Seorang Dagang Minangkabau



Penulisan Syair Sunur di pengaruhi oleh gerakan Paderi ditelusuri melalui biografi Syekh Daud Sunur, ulama dari rantau Pariaman (wilayah pantai). Sejak awal keulamaannya, faham keagamaan Syekh Daud Sunur sudah berseberangan dengan ordo Ulakan. Ulama ini sudah mengarang dua syair terkenal, yaitu Syair Mekah dan Madinah atau Syair Rukun Haji dan Syair Sunur,".
syair-syair karya Syekh Daud Sunur bernilai estetis cukup tinggi. Selain itu, Syair Sunur adalah syair yang cukup tua berciri otobiografis yang pernah ditulis orang Minangkabau, yang dalam konstruksi puitisnya masih memperlihatkan ciri sastra lisan (pantun) Minangkabau di satu sisi dan pengaruh sastra Arab (Islam) di sisi lain.
Berikut syair sunur yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Suryadi dari Naskah Leiden;


SYAIR SUNUR

Inilah nazam dagang yang syukur
kepada tolan di kampung Sunur
bidal sekapur sirih yang layur
pembuka kabar permulaan tutur

Lamalah tuan dagang tinggalkan
habislah tahun berganti zaman
satupun tidak dagang kirimkan
dikarang surat kaganti badan

Jikalau adat orang yang lain
ada kiriman baju dan kain
akan sahabat lawan bermain
supaya terbuka hati yang rahim

Di dagang tidak katando hayat
hanyalah kertas berisi dawat°
dalamnya sembah fadhilal hajat
serta salam doa selamat

Pikirlah dagang suatu malam
diambil kertas, dawat°, dan kalam
disuratkan sembah serta salam
memohonkan ampun ke bawah Kidam

Sungguhpun surat dagang kirimkan
umpama° ganti nyawa dan badan
dagang bercinta surat sampaikan
sepanjang tahun segenap bulan

Wahai sahabat dengarkan kata
kaum kerabat semuanya° rata
sungguhpun jauh tuan di mata
di dalam mimpi kupandang nyata

Baru tapajam mataku tidur
rasa di dalam negeri Sunur
tolan yang ada lawan bertutur
sukalah hati menerima syukur

Sudah terjaga mata memandang
kiranya badan terbaring sorang
bukan di Sunur hanya berdagang
tolan yang tadi dipandang hilang

Siapa tuan yang kasih sayang
mau menanya dagang terbuang
sambutlah surat sudah terlayang
lihat kabarnya disana terang

Di dalam surat ada alamat
mengatakan dagang lagi ada hayat
serta sehat dalam selamat
di negeri Tarumun namanya tempat

Siapa tuan menaruh iba
mau melihat dagang yang papa
tuan disini dagang disana
di dalam surat bertemu mata

Aku suratkan dengan ujung° kalam
atasnya kertas dawat yang hitam
siapa tuan yang rindu dendam
tempat teringat siang dan malam

Dengan ujung° kalam aku menyurat
boleh katanda masa teringat
siapa yang rindu tolan sahabat
lihatlah bekasnya dagang yang larat

Wahai tuan yang kasih sayang
apalah nasib dagang seorang
untung nan tidak bagai di orang
dari mula awal sampai sekarang

Di orang untung umpama° nuri
rupa pun baik dengan biapari
dalam tahta sepanjang hari
apa yang hajat datang sendiri

Di dagang untung bagai sisagan
di dalam sarab sepanjang hutan
kurang mencari kuranglah makan
sepanjang tahun segenap bulan

Di orang untung umpama° tiung
dalam haribaan bunda mengandung
jikalau sakit bunda mendukung
pada masa panas dikembang payung

(54) Di dagang untung bagai barabah
dalam ilalang° tuhur dan basah
sakit dan senang itulah rumah
begitu nasib takdir Allah

Di orang untung umpama° balam
di dalam sangkar° podi manikam
di dagang untung bagai anak ayam°
dalam pelimbahan siang dan malam

Di orang untung umpama° elang°
menjadi raja di awang-awang
di dagang untung si pipit pinang
dua sejoli kemana terbang

Di orang untung umpama° bayan
dalam sangkar° keramat intan
di dagang untung si pungguk rawan
mabuk bercinta rindukan bulan

Di orang nasib umpama° merak
rupanya baik akal pun bijak
di dagang nasib upama cecak
kebencian orang guna pun tidak

Di orang ada ibu dan bapa
akan pembujuk° hati yang duka
di dagang yatim, miskin, dan papa
segenap negeri benci belaka

Jikalau ada ayah dan bunda
sukalah dagang jadi garuda
terbang membubung atas udara
ke negeri Sunur menjelang ayahanda

Di orang untung Bunga Cempaga
rupanya baik putra dewangga
siang dan malam atas kepala
dalam junjungan ayah dan bunda

Di dagang untung bunga durian
jatuh ke bumi masa penghujan°
menjadi luluk sepanjang jalan
siang dan malam jadi jejakan

Sanak saudara ada di orang
boleh menolong pagi dan petang
dagang nan bagai pinang sebatang
kiri dan kanan tidak bercabang

Di orang ada dalam kaum
umpama° betung rampak serumpun
kiri dan kanan banyak berhimpun
segenap bulan sepanjang tahun

Di dagang tidak ada kerabat
akan menjadi lawan sahabat
umpama° nyiur° sebatang bulat
pikir di hati menjadi larat

Di orang nasib bagai durian
batangnya rampak, daun, dan dahan
di dagang nasib sebatang bamban
masa terbuang di dalam hutan

Di orang ada rumah dan tangga
tempat bermain bersuka-suka
di dagang yatim, hina, dan papa
segenap rumah tempat suaka

Sudah begitu takdir Allah
mula sejengkal tinggi di tanah
kami bertiga suatu ayah
turun serumah naik serumah

Untung di Allah sudah begitu
atas kepala dagang piatu
kami bertiga ibu pun satu
ketiganya hanyut ke Bandar Satu

Di orang nasib bagai kepundung
buahnya manis makanan burung
di dagang nasib buah galapung
hanyut di sungai terapung-apung

Di orang untung umpama° duku
manisnya sampai ke ujung° kuku
di dagang pahit bagai mengkudu
biarlah hilang jangan meragu

Wahai tuan yang biaperi
dagang katakan nasib sendiri
anak ayam° hilang ada bacari
dagang terbuang tiap negeri

Wahai tuan yang kasih sayang
dengarkan kabar dagang terbuang
jauh di mata di hati hilang
baiklah mati sebelum gadang

Tidak kerabat banyak di orang
tetapi ada emas di pinggang
barang kemana pergi berdagang
adalah orang menaruh sayang

Dagangku ini tidak seperti
dari mula kecil bunda ‘lah mati
emas pun tidak di dalam peti
semuanya orang menaruh benci

Wahai sahabat handai dan tolan
dagang yang yatim tuan sadarkan
tidaklah jadi tuan harapkan°
sudah terbuang dalam lautan.

Tuan dengarkan kabar yang elok
dagang diambil kabuah ratap°
tidaklah boleh dagang diharap°
umpama° kambing lepas ke sesap

Siapa tuan yang kasih sayang
memberi nasi dagang terbuang
sesuap pagi sesuap petang
minta° ridakan sampai sekarang

Sudahlah kabar kepada tolan
sembah dan salam habis disinan
kepada yang tua° sembah haluan
yang muda salam dagang kirimkan

Suatu lagi nazam ditambah
kepada ananda° Umi Salamah
belahan nyawa buah hati ayah
di negeri Sunur darah tertumpah

Wahai ananda° Umi Salamah
dengarkan, Sayang, pitaruh ayah
taat ibadat kepada Allah
iman di dada jangan berubah

Sembahyang, Sayang, jangan berhenti
dari mula hidup sampai kan mati
di akhirat, Sayang, ayahanda menanti
di Padang Mahsyar di pangkal Titi.

Jikalau ada umurku panjang
niatku bulat tidak bercabang
hendak segera kembali pulang
melihat anak sibiran tulang

Jikalau sampai bilang umurku
habislah daya dengan upayaku
di akhirat, Anak, kita bertemu
di dalam Jannah sorga Tuhanku

Wahai Anak hendaklah syukur
masuk termimpi masaku tidur
siang di Tarumun malam di Sunur
rangkai hatiku rasakan hancur

Tersentaklah ayah pada tengah malam
bulan pun terang cuaca alam
tampaklah gunung jeram-menjeram
hati yang rindu remuk di dalam

Bangunlah ayah daripada tidur
bangkit sekali duduk terpekur
terdengar ombak berdebur-debur
tidaklah obah rasa di Sunur

Ayam° berkokok hampirlah siang
orang pun sunyi° angin pun tenang
berdesir ombak di atas karang
bunyi° menyeru mahimbau pulang

Jikalau ayahanda menjadi burung
sekarang itu terbang membubung
laut baharullah ayahanda arung°
biarlah hanyut menjadi apung

Jikalau ayahanda menjadi bayan
lengkap jo sayap kedua tangan
ayahanda terbang menyisi awan
menjelang Sunur kampung halaman

Jikalau ayahanda menjadi elang°
sekarang itu jua terbang
malam pun tidak dinanti siang
minta° sampaikan masa sekarang

Begitu rasanya di hati ayah
siang dan malam tidak berubah
tetapi belum takdir Allah
habislah daya upaya sudah

Inilah surat dagang yang sangsai
sambutlah, tuan, manakala sampai
suruh bacakan barang yang pandai
ganti bertutur berandai-andai

Siapa tuan menaruh santun
sambutlah surat dari Tarumun
kaganti senda umpama° pantun
jikalau salah beribu ampun

Wahai sahabat kecil dan besar°
Suratku ini minta° didengar
air mata tuan kalau keluar
ganti meratap° mayat terhantar

Siapa tuan yang kasih sayang
mendengar kabar berita dagang
air mata tuan kalau terbuang
misalkan mayat turun di jenjang

Wahai ananda° Umi Salamah
hendak dengarkan surat bermadah
air mata anak jatuh ke tanah
niatkan, Sayang, meratapi ayah

Tamatlah Syair Mekah [dan Madinah dan Syair Sunur] pada 30 hari bulan Jumadilawal Hijrat al-Nabi Muhammad Salallahualaihi wasallam sanat 1266, Muhammad Yahya ibnu Abdul Talab, te Padang den 13 April 1850.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar