Kamis, 09 Juni 2011

Para Khalifah Dari Masa Ke Masa

Para Khalifah Dari Masa Ke Masa        


Muqaddimah

Kebanyakan kaum Muslim tidak mengenal siapa saja para khalifah yang pernah memimpin Dunia Islam setelah Rasulullah saw. wafat. Kalaulah mengenal, kebanyakan hanya sampai masa Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang menyangka bahwa Kekhilafahan Islam berhenti hanya sampai pada masa itu.
Kebanyakan kaum Muslim saat ini memang sudah tidak lagi mengenal sejarah panjang keemasan Islam. Sejarah Islam yang membentang selama 1.300 tahun itu seolah telah sirna dari ingatan mereka. Padahal, dalam sejarah peradaban manusia, belum pernah ada sebuah sistem kehidupan yang mampu bertahan sepanjang kurun itu. Sosialisme, misalnya, hanya mampu bertahan selama 74 tahun, yakni sejak ideologi tersebut eksis secara internasional tahun 1917 dengan berdirinya negara Uni Soviet hingga kehancurannya tahun 1991. Karena itu, penting sekali untuk menyegarkan kembali ingatan kaum Muslim terhadap sejarah panjang masa Kekhilafahan Islam. Hal ini diperlukan untuk membangun kembali kesadaran umat terhadap kewajiban utama mereka memperjuangkan kembali tegaknya Kekhilafahan Islam.
Kontinuitas Kekhilafahan
Rasulullah saw. telah memerintahkan kaum Muslim untuk mengangkat khalifah, sepeninggal beliau. Khalifah inilah yang di-baiat secara syar‘î untuk memimpin kaum Muslim berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Dia pula yang akan menerapkan syariat Allah sekaligus menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Rasulullah saw. berwasiat kepada kaum Muslim agar jangan sampai mereka hidup tanpa memiliki khalifah. Apabila tidak ada khalifah, kerena berbagai sebab, maka tidak ada aktivitas yang patut dilakukan kaum Muslim kecuali segera mengangkat khalifah yang baru. Dialah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan pada masa berikutnya. Rasulullah saw. bersabda:
«وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»
Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di atas pundaknya, maka ia mati dalam keadaan Jahiliah (HR Muslim).
Dari sinilah kita dapat memahami mengapa para sahabat r.a. memprioritaskan pemilihan khalifah, setelah Rasulullah saw. wafat, daripada memakamkan jenazah beliau terlebih dulu. Padahal, para sahabat tentu tahu, bahwa menyegerakan pemakaman jenazah adalah perkara yang wajib, apalagi jenazah Rasulullah saw. Namun, hal itu tidak dilakukan, karena mereka paham bahwa mengangkat khalifah—yang akan menggantikan Rasulullah saw. dalam hal kepemimpinan umat (bukan dalam urusan kenabian)—adalah kewajiban yang harus lebih didahulukan.
Umat Islam generasi terdahulu telah menjaga wasiat Nabi Muhamad saw. itu, dengan tetap memiliki khalifah dalam kurun waktu yang amat panjang, yaitu selama 13 abad. Mereka bahkan tidak pernah membayangkan kaum Muslim akan hidup tanpa khalifah sebagaimana yang tejadi saat ini. Kaum Muslim waktu itu terus menjaga eksistensi khalifah. Apabila khalifah meninggal atau tidak ada karena satu dan lain sebab, maka Majelis Umat (Ahlul Halli wal ‘Aqd) segera mengangkat khalifah pengganti. Demikian seterusnya sehingga kaum Muslim senantiasa hidup dengan memiliki seorang khalifah atau imam.

Estafet Kepemimpinan Para Khalifah                                      

 Masa kekhilafahan kaum Muslim di awali dengan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang berlangsung selama kurang lebih 30 tahun. Pada periode ini, kaum Muslim telah meraih masa keemasan, khususnya pada masa Kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq hingga separuh dari masa kepemimpinan Utsman bin Affan. Khalifah terakhir pada periode ini adalah Hasan bin ‘Ali, cucu Rasulullah saw.
 Para Khalifah masa Khulafâ ar-Râsyidîn
No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Abu Bakar ash-Shiddîq
11-13
632-634
2
2
Umar bin al-Khathâb
13-23
634-644
10
3
‘Utsman bin Afân
23-35
644-656
12
4
‘Alî bin Abi Thâlib
35-40
656-661
5
5
Al-Hasan bin ‘Ali
40-41
661


Masa kepemimpinan Hasan bin ‘Ali tidak berlangsung lama, hanya sekitar enam bulan beberapa hari. Pada tahun 41 H, beliau mengundurkan diri dari jabatan khalifah. Selanjutnya, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan dibaiat untuk menggantikan Hasan bin ‘Ali. Mulai saat itu, kekhilafahan memasuki masa kepemimpinan Bani Umayyah. Kepemimpinan Bani Umayyah berlangsung selama kurang lebih 91 tahun, dari tahun 41 H sampai 132 H (661-749M), dengan pusat pemerintahan di Damaskus. Pada masa ini, banyak negeri yang berhasil ditaklukkan. Di antaranya, di sebelah timur sampai ke negeri Cina; di sebelah barat sampai ke Andalusia (Spanyol) dan selatan Perancis.
Di antara khalifah yang terkenal pada masa Bani Umayyah adalah Umar bin Abdul Azîz. Masa pemerintahannya diwarnai dengan banyak reformasi dan perbaikan. Dia banyak menghidupkan dan memperbaiki tanah-tanah yang tidak produktif, menggali sumur-sumur baru, dan membangun masjid-masjid. Dia juga mendistribusikan sedekah dan zakat dengan cara yang benar sehingga kemiskinan tidak ada lagi pada zamannya. Pada masa pemerintahannya tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat ataupun sedekah. Berkat ketakwaan dan kesalihannya, dia dianggap sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5.

Para Khalifah masa Umayyah

No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Mu’awiyah bin Abi Sofyân
41-60
661-679
19
2
Yazîd bin bin Mu’awiyah
60-64
679-683
4
3
Mu’awiyah bin Yazîd
64
683

4
Marwân bin al-Hakam
64-65
683-684
1
5
‘Abdul Malik bin Marwân
65-86
684-705
21
6
Al-Walîd bin ‘Abdul Malik
86-96
705-714
10
7
Sulaiman bin ‘Abdul Malik
96-99
714-717
3
8
Umar bin ‘Abdul ‘Azîz
99-101
717-719
2
9
Yazîd bin ‘Abdul Malik
101-105
719-723
4
10
Hisyam bin ‘Abdul Malik
105-125
723-742
20
11
Al-Walîd bin Yazîd
125-126
742-743
1
12
Yazîd bin al-Walîd
126
743

13
Ibrahîm bin al-Walîd
126-127
743-744
1
14
Marwan bin Muhammad
127-132
744-749
5
 
14
Marwan bin Muhammad
127-132
744-749
5
Masa kepemimpinan Bani Umayyah berakhir pada tahun 132 H. Ini terjadi setelah  Marwan bin Muhammad mengalami kekalahan dalam Perang Zab, melawan pasukan yang dipimpin Abu Abbas as-Saffah dari Bani Abbasiyah. Sejak saat itu kekhilafahan beralih ke Bani Abbasiyah.
Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah berlangsung selama kurang lebih 783 tahun. Khalifah pertamanya adalah Abu Abbas as-Saffah dan yang terakhir adalah al-Mutawakkil ‘Alallah. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Kekhilafahan Abbasiyah yang berpusat di Irak dan yang berpusat di Mesir.

Para Khalifah masa Abbasiyah yang berpusat di Irak

No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Abu al-‘Abbâs as-Saffâh
132-137
749-753
5
2
Abu Ja’far al-Manshûr
137-159
753-774
22
3
Al-Mahdi
159-169
774-785
10
4
Al-Hâdi
169-170
785-786
1
5
Hârûn al-Rasyîd
170-193
786-808
23
6
Al-Amîn
193-198
808-813
5
7
Al-Ma`mûn
198-218
813-833
20
8
Al-Mu’tashim Billah
218-227
833-841
9
9
Al-Wâtsiq Billah
227-232
841-846
5
10
Al-Mutawakkil ‘Alallah
232-247
846-861
15
11
Al-Muntashir Billah
247-248
861-862
1
12
Al-Musta’în Billah
248-252
862-866
4
13
Al-Mu’taz Billah
252-255
866-868
3
14
Al-Muhtadî Billah
255-256
868-869
1
15
Al-Mu’tamad ‘Alallah
256-279
869-892
23
16
Al-Mu’tadhid Billah
279-289
892-901
10
17
Al-Muktafî Billah
289-295
901-907
6
18
Al-Muqtadir Billah
295-320
907-932
25
19
Al-Qâhir Billah
320-322
932-933
2
20
Ar-Râdhî Billah
322-329
933-940
7
21
Al-Muttaqî Lillah
329-333
940-944
4
22
Al-Mustakfî Lillah
333-334
944-945
1
23
Al-Muthî’ Lillah
334-363
945-973
9
24
Ath-Thâi’ Lillah
363-381
973-991
18
25
Al-Qâdir Billah
381-422
991-1030
41
26
Al-Qâim Biamrillah
422-467
1030-1074
45
27
Al-Muqtadî Biamrillah
467-487
1074-1094
10
28
Al-Mustazhhir Billah
487-512
1094-1118
25
29
Al-Musytarsyid Billah
512-529
1118-1134
17
30
Ar-Râsyid Billah
529-530
1134-1135
1
31
Al-Muqtafî Liamrillah
530-555
1135-1160
25
32
Al-Mustanjid Billah
555-566
1160-1170
11
33
Al-Mustadhî Biamrillah
566-575
1170-1179
9
34
An-Nâshir Lidînillah
575-622
1179-1225
47
35
Azh-Zhâhir Biamrillah
622-623
1225-1226
1
36
Al-Mustanshir Billah
623-640
1226-1242
7
37
Al-Mu’tashim Billah
640-656
1242-1258
16

 Pada masa kepemimpinan al-Mu‘tashim Billah terjadi peristiwa tragis yang menimpa kaum Muslim. Peristiwa itu adalah serangan tentara Tartar, pada tahun 656 H, ke jantung Ibu Kota Negara Khilafah, di Baghdad. Tentara Tartar yang dipimpin Hulagu ini menyerang kaum Muslim secara biadab. Perang yang berlangsung selama 40 hari itu, selain berhasil membunuh Khalifah, juga membunuh anak-anak dan pamannya. Sebagian dari mereka ada yang ditawan. Dikisahkan, tidak seorang pun yang selamat dari pembantaian sadis tentara Tartar, kecuali mereka yang bersembunyi di sumur atau di kolong jembatan.
Diperkirakan lebih dari satu juta penduduk menjadi korban kebiadaban pasuka Tartar. Akibat serangan ini, kaum Muslim tidak memiliki khalifah selama kurang lebih tiga setengah tahun.
Pada tahun 658 H, tentara Tartar meyeberangi sungai Furat dan mereka sampai di Halb. Di tempat itu mereka menghunus pedang dan melanjutkan perjalanan ke Damaskus. Bersamaan dengan itu, kaum Muslim yang ada di Mesir tengah mengkosolidasikan kekuatan untuk menyongsong tentara Tartar dengan semangat jihad yang membara. Saat itu, kaum Muslim dipimpin oleh Saifuddin Quthuz al-Mu‘izzi, yang menjadi sultan di Mesir, dengan gelar al-Malik al-Muzhaffar. Al-Muzhaffar dan panglimanya, Ruknuddin Baybars al-Bandaqadari, memimpin pasukan Islam untuk menyambut serangan orang Tartar. Mereka bertemu di ‘Ayn Jalut. Kedua pasukan ini terlibat dalam pertempuran sengit pada hari Jumat, 15 Ramadhan. Tentara Tartar akhirnya kalah telak dalam pertempuran yang sangat monumental di dalam catatan sejarah kaum Muslim.
Memasuki tahun 659 H, Dunia Islam belum juga memiliki seorang khalifah. Akhirnya, didirikanlah kekhilafahan di Mesir. Al-Muntanshir-lah yang diangkat sebagai khalifah pertama Bani Abbasiyah di Mesir. Dia adalah seorang keturunan Bani Abbasiyah, yang berhasil lolos dari pembantaian tentara Tartar, dan berhasil menyelamatkan diri ke Mesir. Sejak saat itu, pusat kekuasaan Islam berpindah ke Kairo. Pembaiatan al-Muntanshir sebagai khalifah berlangsung pada tanggal 1 Rajab 659 H.

Para Khalifah masa Abbasiyah yang berpusat di Mesir

No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Al-Mustanshir Billah (II)
659-661
1260-1262
2
2
Al-Hâkim Biamrillah (I)
661-701
1262-1301
40
3
Al-Mustakfî Billah (I)
701-736
1301-1335
35
4
Al-Wâtsiq Billah (I)
736-742
1335-1341
6
5
Al-Hâkim Biamrillah (II)
742-753
1341-1352
11
6
Al-Mu’tadhid Billah (I)
753-763
1352-1361
10
7
Al-Mutawakkil ‘Alallah (I)
763-785
1361-1383
22
8
Al-Wâtsiq Billah (II)
785-788
1383-1386
3
9
Al-Mu’tashim
788-791
1386-1388
3
10
Al-Mutawakkil ‘Alallah (II)
791-808
1388-1405
17
11
Al-Musta’în Billah
808-815
1405-1412
7
12
Al-Mu’tadhid Billah (II)
815-845
1412-1441
30
13
Al-Mustakfî Billah (II)
845-854
1441-1450
9
14
Al-Qâim Biamrillah
854-859
1450-1454
5
15
Al-Mustanjid Billah
859-884
1454-1479
15
16
Al-Mutawakkil ‘Alallah (III)
884-893
1479-1487
9
17
Al-Mutamassik Billah
893-914
1487-1508
11
18
Al-Mutawakkil ‘Alallah (IV)
914-918
1508-1512
4
 
Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah yang perpusat di Mesir berakhir tahun 918 H. Ini terjadi ketika kondisi politik saat itu sudah sangat tidak stabil. Di samping karena adanya konflik internal, yang menyebabkan persatuan khilafah lemah, juga karena adanya ancaman serangan orang-orang Portugis yang sudah sampai di Luat Merah. Pada saat itu, kekuatan Utsmani yang ada di Turki muncul di bawah pimpinan Sultan Salim. Akhirnya, khalifah Abbasiyah terakhir, al-Mutawakkil ‘Alallah (III) turun tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada Sultan Salim.
Kepemimpinan Khilafah Utsmaniyah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, sekitar 424 tahun, dari tahun 918-1342 H (1512-1924 M). Khalifah pertamanya adalah Salim al-Ula dan yang terkahir adalah ‘Abdul Majid ats-Tsani. Banyak prestasi yang berhasil diraih Kekhilafahan Utsmaniah, di antaranya adalah penaklukan Konstantinopel. Mereka telah mendatangi Eropa sampai di Austria, lalu mengepungnya lebih dari dua kali. Negeri-negeri Eropa yang  berhasil dikuasai antara lain Hungaria, Beograd, Albania, Yunani, Rumania, Serbia, dan Bulgaria. Mereka juga telah menguasai seluruh kepulauan di Laut Tengah dan menariknya ke dalam pangkuan Islam.
 

Para Khalifah masa Utsmaniyah

No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Salîm al-Ula
918-926
1512-1520
8
2
Sulaiman Qânûnî
926-974
1520-1566
48
3
Salîm ats-Tsanî
974-982
1566-1574
8
4
Murâd ats-Tsâlits
982-1003
1574-1595
21
5
Muhammad ats-Tsâlits
1003-1012
1595-1603
9
6
Ahmad al-Ula
1012-1026
1603-1617
14
7

Mushthafa al-Ula

1026
1617

8
Utsman ats-Tsânî
1026-1031
1617-1621
5
9

Mushthafa al-Ula (ke dua kali)

1031-1032
1621-1622
1
10
Murâd ar-Râbi’
1032-1049
1622-1639
17
11
Ibrâhîm al-Ula
1049-1058
1639-1648
9
12
Muhammad ar-Râbi’
1058-1099
1648-1687
41
13
Sulaiman ats-Tsânî
1099-1102
1687-1691
3
14
Ahmad ats-Tsânî
1102-1106
1991-1994
4
15

Mushthafa ats-Tsânî

1106-1115
1694-1702
9
16
Ahmad ats-Tsâlits
1115-1143
1703-1730
28
17
Mahmûd al-Ula
1143-1168
1730-1754
25
18
Utsman ats-Tsâlits
1168-1171
1754-1757
3
19

Mushthafa ats-Tsâlits

1171-1187
1757-1773
16
20
‘Abdul Hamîd al-Ula
1187-1203
1773-1788
16
21
Salîm ats-Tsâlits
1203-1222
1789-1807
19
22

Mushthafa ar-Râbi’

1222-1223
1807-1808
1
23
Mahmûd ats-Tsânî
1223-1255
1808-1839
32
24
‘Abdul Majîd al-Ula
1255-1277
1839-1861
22
25
‘Abdul ‘Azîz al-Ula
1277-1293
1861-1876
16
26
Murâd al-Khâmis
1293
1876

27
‘Abdul Hamid ats-Tsânî
1293-1328
1876-1909
35
28
Muhammad Rasyad al-Khâmis
1328-1337
1909-1918
9
29
Muhammad Wahîduddin (II)
1337-1340
1918-1922
3
Kelemahan demi kelemahan pun melanda Kekhilafahan Ustmaniah, setelah mencapai puncak keemasannya, dengan wilayah kekuasaan yang luas. Masuknya pemikiran nasionalisme, yang dipropagandakan agen-agen negara kafir ke wilayah kekuasaan Utsmaniah, telah memicu terjadinya perpecahan dalam tubuh kaum Muslim. Pengabaian terhadap kemaslahatan rakyat dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka juga menjadi faktor yang mempercepat laju kemerosotan kekuatan Khilafah Utsmaniah. Akhirnya, melalui seorang agen Inggris, Musthafa Kamal, pada tanggal 3 Maret 1924 M (27 Rajab 1342H), Kekhilafahan Utsmaniah dihapus. Negeri-negeri Muslim pun terpecah-belah menjadi banyak negara, dengan pemimpinnya masing-masing, prinsip masing-masing, dan aturan masing-masing.

Delapan Puluh Tiga Tahun Berlalu Tanpa Khalifah

 Waktu terus berlalu, 83 tahun sudah kaum Muslim hidup tanpa khalifah. Padahal, batas waktu yang diberikan kepada kaum Muslim untuk mengangkat khalifah dari sejak berhentinya seorang khalifah hanya dua malam tiga hari.
Dalil yang menunjukkan tenggang waktu dua malam tiga hari bagi kaum Muslim untuk mengangkat khalifah adalah Ijma Sahabat. Ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab merasa ajalnya hampir tiba, beliau menunjuk ahlu syura dan memberikan batas waktu kepada mereka tiga hari. Kemudian beliau berwasiat, apabila dalam jangka waktu tiga hari tidak tercapai kesepakatan untuk mengangkat khalifah, maka hendaknya orang yang tidak ikut bersepakat dibunuh. Beliau menugaskan 50 orang untuk melaksanakannya. Padahal mereka adalah ahlu syura dan pemuka para sahabat. Semua itu terjadi di hadapan para sahabat yang lain, diketahui dan didengar mereka, namun tidak seorang pun menyangkal hal itu. Dengan demikian terdapat Ijma Sahabat bahwa kaum Muslim tidak boleh mengalami masa kekosongan kekhilafahan lebih dari dua malam tiga hari. Ijma Sahabat merupakan dalil syariat sebagaimana al-Quran dan as-Sunnah, yang menyebabkan kaum Muslim wajib terikat kepadanya.
Khatimah
Demikianlah sejarah panjang perjalanan Kekhilafahan Islam. Sejarah tersebut kadang-kadang mengalami masa pasang dan kadang-kadang mengalami masa surut. Hal itu sangat ditentukan oleh kualitas dan kapasitas khalifah yang memimpin serta situasi politik yang mempengaruhinya. Meskipun demikian, seburuk-buruknya kondisi saat itu masih lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi saat kaum Muslim tidak memiliki khilafah sebagaimana sekarang ini. Tanpa khilafah, kaum Muslim tidak memiliki pemimpin yang mempersatukan mereka, yang menjaga dan melindungi mereka.
Karena itu, kaum Muslim harus segera menyingsingkan lengan bajunya untuk berjuang bersama-sama dengan mereka yang saat ini tengah memperjuangkan tegaknya khilafah.
Yakinlah, hanya dengan perjuangan pertolongan Allah akan turun, dan hanya dengan pertolongan Allah tegaknya Islam akan bisa diwujudkan. Hanya dengan tegakknya Islam, kemaslahatan seluruh umat manusia akan bisa tercapai. []

Daftar Pustaka

1.      As-Suyuthi. Târîkh al-Khulâfâ’.
2.      Al-‘Usairi, Ahmad. 1999. At-Târîkh al-Islâmî.
3.      Ash-Shalabi, Ali Muhammad. 2002. Ad-Dawlah al-‘Utsmâniyyah ‘Awâmil an-Nuhûdh wa Asbâb as-Suqûth.
4.      An-Nabhani, Taqiyuddin. 1995. Al-Khilâfah. Khazanah Islam. Jakarta.
5.      An-Nabhani, Taqiyuddin. 1996. Nizhâm al-Hukmi fî al-Islâm.
6.      Pusat Pengkajian Islam Strategis. 1995. Al-Khilâfah al-Islâmiyyah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar