Senin, 10 September 2012

Mantiqut-Thair (3)-Musyawarah Dibuka


Mantiqut-Thair (3)-Musyawarah Dibuka

Faridu'd-Din Attar SEGALA burung di dunia, yang dikenal dan tak dikenal, datang berkumpul. Mereka berkata, “Tiada negeri di dunia ini yang tak beraja. Maka bagaimana mungkin kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Keadaan demikian tak bisa dibiarkan terus. Kita mesti berusaha bersama-sama untuk mencarinya; karena tiada negeri yang mungkin memiliki tata usaha yang baik dan tata susunan yang baik tanpa raja.”
Maka mereka mulai memikirkan bagaimana hendak mencarinya. Burung Hudhud, dengan bersemangat dan penuh harapan, tampil ke muka lalu menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah mengikuti tarikat pengetahuan ruhani; jambul di kepalanya sebagai mahkota kebenaran, dan dia memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk.
“Burung-burung yang terhormat,” dia mulai, “akulah yang bergiat dalam perjuangan suci, dan aku utusan dari dunia yang tak terlihat di mata. Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia ciptaan. Bila ada yang –seperti aku– membawa nama Tuhan, Bismillah,1 di paruhnya, itu berarti bahwa dia pasti memiliki pengetahuan tentang banyak hal yang tersembunyi. Namun hari-hariku berlalu dengan resah dan aku tak berurusan dengan siapa pun, karena aku sama sekali dikuasai oleh cinta pada Raja. Aku dapat mencari sumber air dengan naluriku, dan banyak rahasia lain yang kuketahui. Aku bicara dengan Sulaiman dan aku yang paling penting di antara para pengikutnya. Mengherankan bahwa ia tak menanyakan ataupun mencari mereka yang tak hadir dalam kerajaannya, namun bila aku pergi sehari saja, disebarnya utusan di mana-mana, dan karena ia tak mungkin tanpa aku sebentar maka nilai kepentinganku telah mantaplah selamanya. Aku membawa surat-suratnya, aku pengiringnya yang terpercaya. Burung yang diinginkan Nabi Sulaiman patut mendapat mahkota di kepalanya. Burung yang dikatakan baik oleh Tuhan, mana mungkin menyeret bulu-bulunya dalam debu? Bertahun-tahun aku telah mengelana di laut dan di darat, lewat di atas gunung-gunung dan lembah-lembah. Kucakup ruangan maha luas di masa banjir besar; aku menyertai Sulaiman dalam perjalanan-perjalanannya, dan aku telah mengukur batas-batas dunia.
Kukenal baik Rajaku, tetapi sendiri saja tak dapat aku pergi mencarinya. Tinggalkan keseganan kalian, kesombongan kalian dan keingkaran kalian, karena siapa yang tak mementingkan hidupnya sendiri terbebas dari ikatan dirinya sendiri; ia terbebas dari ikatan baik dan buruk demi yang dicintainya. Bermurah hatilah dengan hidup kalian. Jejakkan kaki kalian di tanah dan melangkahlah ke istana Raja. Kita mempunyai Raja sejati, ia tinggal di balik gunung-gunung Kaf.2 Namanya Simurgh3 dan ia raja segala burung. Ia dekat dengan kita, tetapi kita jauh darinya. Tempat persemayamannya tak dapat dicapai, dan tiada lidah yang dapat mengucapkan namanya. Di mukanya tergantung seratus ribu tabir cahaya dan kegelapan, dan dalam kedua dunia itu tak ada yang dapat menyangsikan kerajaannya. Ia Raja yang berdaulat raya dan bermandikan kesempurnaan dari keagungannya. Ia tak membukakan diri sepenuhnya meskipun di tempat persemayamannya sendiri, dan tentang ini tak ada pengetahuan atau kecerdasan yang dapat meraihnya. Jalan itu tak dikenal, dan tak ada yang berteguh hati mencarinya, meskipun ribuan makhluk melewatkan hidupnya dalam kerinduan. Bahkan jiwa yang paling suci pun tak dapat melukiskannya, dan akal budi tak pula dapat memahami: kedua belah mata ini pun buta. Si bijak tak dapat mengetahui kesempurnaannya dan si arif tak pula dapat mengamati keindahannya. Sekalian makhluk memang ingin meraih kesempurnaan dan keindahan itu dengan bayangan angan. Tetapi betapa dapat kalian menempuh jalan itu dengan pikiran? Bagaimana mengukur bulan dari ikan? Begitulah, ribuan kepala pun bergerak ke sana ke mari, dan hanya ratap dan keluh kerinduan saja yang terdengar. Banyak laut dan daratan di tengah jalan. Jangan kira perjalanan itu singkat; dan kita mesti berhati singa untuk menempuh jalan yang luar biasa itu, karena jalan itu amat panjang dan laut itu dalam. Ada yang berjalan dengan susah payah dan keheranan, sambil kadang-kadang tersenyum dan kadang-kadang menangis. Adapun bagiku, aku akan merasa bahagia menemukan biar hanya jejaknya saja. Itu akan ada juga artinya, tetapi hidup tanpa dia tentulah akan menjadi sesalan. Janganlah kita menutup jiwa kita terhadap yang kita kasihi, tetapi hendaklah kita ada dalam keadaan yang serasi untuk menuntun jiwa kita ke istana Raja kita itu. Cucilah tangan kalian dari kehidupan ini bila kalian ingin disebut pengamal. Demi yang kalian kasihi, tinggalkan kehidupan kalian yang berharga ini, sebagai muliawan. Bila kalian menyerahkan diri dengan manis, sang kekasih pun akan memberikan seluruh hidupnya pada kalian.”

Pengejawantahan Simurgh yang Pertama

“Sungguh ajaib! Pengejawantahan Simurgh yang pertama terjadi di Cina pada tengah malam. Sehelai bulunya jatuh di Cina dan kemasyhuran namanya pun memenuhi dunia. Setiap orang membuat lukisan yang menggambarkan bulu ini, dan dari lukisan itu dibentuk susunan pikirannya sendiri dan dengan demikian tergelincirlah ia dalam kekacauan. Lukisan ini masih ada di gedung lukisan di negeri itu; maka dihadiskan, ‘Carilah ilmu, walau ke Cina!’
Tetapi terhadap pengejawantahan itu tak begitu banyak ribut-ribut di dunia mengenai Wujud yang penah rahasia ini. Tanda akan adanya itu membuktikan keagungannya. Semua jiwa menyimpan kesan gambaran angan tentang bulunya. Karena penggambaran tentang Simurgh tanpa kepala maupun ekor, tanpa awal maupun akhir, maka tak perlu pemerian lebih lanjut. Kini siapa pun di antara kalian yang hendak menempuh perjalanan yang kusebutkan, siapkan diri dan injakkan kaki di Jalan itu.”
Setelah Hudhud selesai bicara, dengan bersemangat burung-burung pun mulai membicarakan keagungan Raja itu, dan dicekam keinginan hendak menjadikan Raja itu penguasa mereka, maka tak sabar mereka pun ingin berangkat. Mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama; masing-masing pun menjadi kawan bagi yang lain dan menjadi lawan dirinya sendiri. Tetapi ketika mereka mulai menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan mereka nanti, maka mereka pun ragu-ragu, dan meskipun jelas mereka berkemauan baik, namun mereka mulai berdalih menyatakan keberatan, masing-masing sesuai dengan wataknya.

Catatan kaki:

1 Artinya, “Dengan nama Tuhan”. Pada paruh burung Hudhud ada tanda yang menyerupai huruf-huruf Parsi “Bismillah”.
2 Kaf = barisan gunung yang melingkungi bumi.
3 Simurgh = Juga disebut Sen-Simurgh, burung raksasa. Dalam Mahabarata, Garuda. Ada dua Simurgh. Yang satu tinggal di gunung Elbruz di Pegunungan Kaukasus, jauh dari manusia. Sarangnya terbuat dari tiang-tiang gading, kayu cendana dan gaharu. Ia dapat bicara dan bulu-bulunya memiliki daya-daya magis. Ia merupakan lambang Tuhan dan pelindung para pahlawan. Simurgh yang lain ialah gergasi yang menakutkan, yang juga tinggal di sebuah gunung, tetapi ia menyerupai awan hitam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar