Cahaya di atas Cahaya
Rumi: Matsnavi II 1248 - 1293
Sang Mustapha bertutur tentang permohonan Neraka,
ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati:
"berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah padamkan apiku."
Jadi, terang cahaya al-Mukmin berarti padamnya api,
karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna.
Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya,
karena api bersumber dari Murka-Nya,
sementara cahaya dari Rahmat-Nya.
Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan,
tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api.
Mereka yang bertakwa dengan haqq memancarkan aliran air rahmat itu:
inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan.
Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi
lari menjauh dari orang seperti mereka,
karena engkau tersusun dari api,
sementara mereka dari aliran air.
Api melarikan diri dari air,
karena takut nyala dan asapnya
dipadamkan oleh air.
Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api;
pikiran dan perasaan orang suci
tersusun dari cahaya yang indah.
Ketika percikan cahaya orang suci menetes
di atas api, terdengar suara berdesis,
dan lidah api menjilat dengan murka.
Ketika datang saat seperti itu, katakanlah,
“mati dan musnahlah engkau,”
agar padam neraka itu,
yaitu api hawa-nafsumu.
Sehingga ia tak membakar taman mawarmu,
sehingga ia tak membakar keadilan dan hasanah-mu.
Setelah berhasil engkau padamkan,
barulah bibit yang engkau tanam
dapat menghasilkan aneka buah,
atau memekarkan bermacam bunga.
Wahai Guru tuturmu melantur,
mengapa kau tak kembali ke
pokok perbincangan?
Kita sedang memperlihatkan melanturnya
dirimu, wahai pemendam iri-dengki;
tak kau sadari, keledaimu pincang,
sedangkan kota cahaya sangatlah jauh,
alangkah lambat jalanmu.
Telah sekian tahun kita habiskan;
sudah hampir lewat masa tanam;
tak ada hasil panenmu,
kecuali wajahmu yang menghitam,
dan amalmu yang berbau busuk?
Cacing telah bersarang,
di akar pohon dirimu:
galilah dan bakarlah.
Kuperingatkan lagi, wahai pencari,
waktu telah hampir habis,
hari telah senja,
matahari jelang tenggelam.
Hanya tersisa satu dua hari lagi,
ketika masih tersisa kekuatan pada dirimu,
kepakkan sayapmu dengan bersemangat.
Manfaatkanlah baik-baik sisa benihmu,
agar dari bibit-waktu yang sedikit itu
dapat tumbuh pohon abadi.
Sementara lampu hidupmu belum padam,
kecilkanlah sumbunya,
dan jagalah minyaknya.
Jangan lagi engkau berkata, besok, besok;
sudah terlalu banyak besokmu yang terlewat.
Jangan sampai tiada hari tanam tersisa.
Dengarkanlah nasehatku,
jasmanimu itu yang mengikatmu,
tanggalkan jasmanimu rentamu,
jika kau inginkan pembaruan.
Tutup mulutmu, dan bukalah buah berisikan emas:
tanggalkan keakuanmu,
perlihatkan kemurahanmu.
Kemurahan berarti meninggalkan syahwat dan hawa-nafsu;
orang yang tenggelam dalam hawa-nafsunya,
sulit mentas lagi.
Kemurahan adalah salah satu cabang
cemara di al-Jannah:
malang lah orang yang tak berpegangan
pada cabang semacam itu.
Menanggalkan hasratmu adalah pegangan yang paling kuat:
cabang itu menarik jiwamu ke Langit.
Karena itu jadilah pemurah,
wahai penganut ad-Diin,
sehingga terangkat engkau
ke sumber cabang itu.
Jadikan Yusuf yang cantik
sebagai teladan keindahan jiwamu,
perlakukan alam-dunia ini sebagai sumur,
gunakan kemurahan
dan keberserahan kepada karsa Rabb
sebagai tali untuk mentas ke atas.
Wahai peneladan keindahan Yusuf,
tali telah diturunkan,
raihlah dengan ke dua belah tanganmu;
jangan kau lepaskan, karena hari telah larut.
Berpujilah kepada-Nya ketika tali telah terjulur;
itu dari semesta yang sangat nyata,
tapi tak nampak.
Semesta fenomenal ini,
sebenarnya hanya wujud yang mungkin,
tapi telah menjadi sangat nyata bagimu,
sementara semesta yang sejati,
semakin tersembunyi.
Seperti debu bertaburan dipermainkan angin,
bagaikan fatamorgana yang menghijab.
Yang tampak ramai ini sejatinya hampa dan dangkal,
bagai bebauan; yang tersembunyi itulah inti dan sumbernya.
Debu hanya tanda
dari adanya angin:
angin itulah yang bernilai,
dan tinggi derajatnya.
Mata yang tersusun dari tanah-liat,
hanya akan menatap debu;
untuk melihat angin itu
diperlukan penglihatan yang berbeda.
Seekor kuda mengenal kuda yang lain,
karena mereka sejenis:
hanya penunggang kuda dapat mengenali
sesama penunggang.
Yang dimaksud dengan kuda itu
adalah mata syahwatiah,
sedangkah sang penunggang
adalah Cahaya Ilahiah;
tanpa sang penunggang,
kuda itu sendiri tak berguna.
Karena itu latihlah kudamu,
agar dia sembuh dari kebiasaan buruknya;
jika tidak, dia akan tertolak
dari majelis Sang Raja.
Penglihatan si kuda mendapati jalan,
bersumberkan pandangan Sang Raja;
tanpa pandangan Sang Raja
penglihatan si kuda kehilangan panduan.
Penglihatan si kuda akan selalu menolak panduan,
kecuali ke arah makanan dan padang rumput.
Cahaya Ilahiah itu yang seyogyanya jadi penentu arah bagi penglihatan si kuda,
barulah jiwa dapat merindu Rabb.
Tidaklah mungkin kuda tanpa pengendara
dapat membaca tanda-tanda jalan.
Hanya penunggang bermartabat Raja
dapat mengenali jalan Sang Raja.
Tempuhlah arah selaras dengan rasa-jati
yang dikendarai oleh Cahaya,
Cahaya itu pengendara terpercaya.
Cahaya Ilahiah mengendarai cahaya rasa-jati,
ini salah satu makna dari Cahaya di atas cahaya.
Sumber: Rumi: Matsnavi II 1248 - 1293 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson
Senin, 15 Oktober 2012
Minggu, 14 Oktober 2012
TUHAN MENEGUR DARWIS (MANTIQUT-THAIR)
Tuhan Menegur Seorang Darwis
Dari Mantiqut thair by Faridu'd-Din.
Seorang suci yang telah menemukan ketenteraman dalam Tuhan menyerahkan seluruh dirinya dalam sembah dan puja selama empat puluh tahun. Ia telah melarikan diri dari dunia ini, tetapi karena Tuhan begitu mesra menyatu padanya, orang itu pun merasa puas. Darwis ini telah memagari sebidang tanah di gurun; di tengah-tengahnya ada sebatang pohon, dan di pohon itu seekor burung telah membuat sarangnya. Nyanyian burung itu merdu terdengar, karena setiap nadanya mengandung seratus rahasia. Hamba Tuhan itu terpesona.
Tetapi Tuhan menyampaikan pada seorang arif tentang ihwal peristiwa itu dengan kata-kata ini, “Katakan pada sufi itu bahwa aku heran setelah berkhusyuk selama bertahun-tahun, ia telah berhenti dengan menjual aku seharga seekor burung.
Memang benar burung itu mengagumkan, tetapi nyanyiannya telah menjerat sufi itu dalam sebuah perangkap. Aku telah membeli dia dan dia telah menjual aku.”
Dari Mantiqut thair by Faridu'd-Din.
Seorang suci yang telah menemukan ketenteraman dalam Tuhan menyerahkan seluruh dirinya dalam sembah dan puja selama empat puluh tahun. Ia telah melarikan diri dari dunia ini, tetapi karena Tuhan begitu mesra menyatu padanya, orang itu pun merasa puas. Darwis ini telah memagari sebidang tanah di gurun; di tengah-tengahnya ada sebatang pohon, dan di pohon itu seekor burung telah membuat sarangnya. Nyanyian burung itu merdu terdengar, karena setiap nadanya mengandung seratus rahasia. Hamba Tuhan itu terpesona.
Tetapi Tuhan menyampaikan pada seorang arif tentang ihwal peristiwa itu dengan kata-kata ini, “Katakan pada sufi itu bahwa aku heran setelah berkhusyuk selama bertahun-tahun, ia telah berhenti dengan menjual aku seharga seekor burung.
Memang benar burung itu mengagumkan, tetapi nyanyiannya telah menjerat sufi itu dalam sebuah perangkap. Aku telah membeli dia dan dia telah menjual aku.”
KUTIPAN : MANTIQ'U THAIR : FARIDU'D DIN ATTAR
Kutipan : Mantiq’u-Thair : Faridu’ddin Attar
Segala burung di dunia, yang dikenal dan tak dikenal datang berkumpul.
Mereka berkata : Tiada negara di dunia ini yang tanpa pemimpin. Jadi mana mungkin kerajaan burung-burung tanpa penguasa.
Keadaan ini tak bisa dibiarkan terus. Kita mesti berusaha bersama-sama untuk mencarinya, karena tidak ada negara yang akan tertata dengan baik tanpa penguasa.
Maka merekapun berfikir bagaimana cara untuk mencarinya.
Burung Budbud dengan bersemangat dan penuh harapan tampil kemuka, lalu menempatkan diri ke tengah majelis burung-burung itu.
Didadanya tampak perhiasan sebagai perlambang bahwa dia telah melalui suatu perjalanan ruhani, jambul di kepalanya sebagai mahkota kebenaran, dan ia telah memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk.
Burung-burung yang terhormat,’dia mulai, Akulah yang bergiat dalam perjuangan suci, dan aku utusan dari dunia yang tak kasat mata.
Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia penciptaan.
Bila ada yang seperti aku membawa nama Tuhan, Bismillah di paruhnya, itu berarti dia pasti memiliki pengetahuan tentang banyak hal yang tersembunyi.
Segala burung di dunia, yang dikenal dan tak dikenal datang berkumpul.
Mereka berkata : Tiada negara di dunia ini yang tanpa pemimpin. Jadi mana mungkin kerajaan burung-burung tanpa penguasa.
Keadaan ini tak bisa dibiarkan terus. Kita mesti berusaha bersama-sama untuk mencarinya, karena tidak ada negara yang akan tertata dengan baik tanpa penguasa.
Maka merekapun berfikir bagaimana cara untuk mencarinya.
Burung Budbud dengan bersemangat dan penuh harapan tampil kemuka, lalu menempatkan diri ke tengah majelis burung-burung itu.
Didadanya tampak perhiasan sebagai perlambang bahwa dia telah melalui suatu perjalanan ruhani, jambul di kepalanya sebagai mahkota kebenaran, dan ia telah memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk.
Burung-burung yang terhormat,’dia mulai, Akulah yang bergiat dalam perjuangan suci, dan aku utusan dari dunia yang tak kasat mata.
Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia penciptaan.
Bila ada yang seperti aku membawa nama Tuhan, Bismillah di paruhnya, itu berarti dia pasti memiliki pengetahuan tentang banyak hal yang tersembunyi.
NASEHAT ELANG PADA ANAKNYA
Nasehat Elang Pada Anaknya
Kautahu bahwa semua elang hanya pantas bagi sesama elang:
Dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki hati singa.
Harus berani dan hormat diri, sergaplah mangsa yang besar saja.
Jangan bersibuk dengan ayam hutan, burung meliwis dan pipit
Kecuali jika kauingin melatih kepandaianmu memburu.
Adalah hina, pengecut, tanpa berusaha mengeram
Membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah.
Elang tolol yang meniru cara hidup burung pipit yang pemalu
Akan menjumpai nasib malang sebab ialah yang menjadi mangsa buruannya
Kutahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya
Oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum.
Peliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia
Selalulah geram, keras, berani dan kuat dalam perjuangan hidup.
Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing
Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan.
Apa pun kesenangan yang berasal dari kehidupan fana di sini
Datang dari hidup yang penuh keberanian, kegiatan dan kecermatan.
Nasehat berharga yang telah diberikan elang pada anaknya:
Jadikan tetesan darah kemilaumu berkilat-kilat bagaikan manikam.
Jangan kehilangan diri dalam penggembalaan seperti domba dan kerbau
Jadilah dirimu seperti nenek-moyangmu semenjak dulu.
Kuingat dengan baik betapa orangtuaku senantiasa menasehatiku begitu.
“Jangan bangun sarangmu di dahan pohon, “ ujar mereka.
“Kita para elang tak mencari perlindungan di taman dan ladang manusia.
Surga kita di puncak-puncak gunung, gurun luas dan tebing jurang.
Bagi kita haram menjemput bulir-bulir jelai dari tanah
Sebab Tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tak terbatas.
Penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi
Di mataku lebih buruk dari burung kelahiran bumi.
Bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang
Karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya.
Kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin
Keturunan paling murni dari burung garuda.
Jika seekor elang muda ditantang oleh seekor harimau
Tanpa mengenal takut ia akan membelalakkan matanya.
Terbangmu pasti dan megah seperti terbang malaikat
Dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung
Di bawah kolong langit yang luas ini, kau tinggal
Martabatmu terangkat oleh kekuatan, sasaran apa pun tak ditampik oleh matamu
Kau tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapan pun saja.
Baik-baiklah kau membawa diri dan dengarkan selalu nasehat yang baik dan luhur
Muhammad Iqbal
Dari payam-i-mashriq (Pesan dari Timur)
Terjemah : Abdul Hadi Wm
Kautahu bahwa semua elang hanya pantas bagi sesama elang:
Dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki hati singa.
Harus berani dan hormat diri, sergaplah mangsa yang besar saja.
Jangan bersibuk dengan ayam hutan, burung meliwis dan pipit
Kecuali jika kauingin melatih kepandaianmu memburu.
Adalah hina, pengecut, tanpa berusaha mengeram
Membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah.
Elang tolol yang meniru cara hidup burung pipit yang pemalu
Akan menjumpai nasib malang sebab ialah yang menjadi mangsa buruannya
Kutahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya
Oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum.
Peliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia
Selalulah geram, keras, berani dan kuat dalam perjuangan hidup.
Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing
Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan.
Apa pun kesenangan yang berasal dari kehidupan fana di sini
Datang dari hidup yang penuh keberanian, kegiatan dan kecermatan.
Nasehat berharga yang telah diberikan elang pada anaknya:
Jadikan tetesan darah kemilaumu berkilat-kilat bagaikan manikam.
Jangan kehilangan diri dalam penggembalaan seperti domba dan kerbau
Jadilah dirimu seperti nenek-moyangmu semenjak dulu.
Kuingat dengan baik betapa orangtuaku senantiasa menasehatiku begitu.
“Jangan bangun sarangmu di dahan pohon, “ ujar mereka.
“Kita para elang tak mencari perlindungan di taman dan ladang manusia.
Surga kita di puncak-puncak gunung, gurun luas dan tebing jurang.
Bagi kita haram menjemput bulir-bulir jelai dari tanah
Sebab Tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tak terbatas.
Penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi
Di mataku lebih buruk dari burung kelahiran bumi.
Bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang
Karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya.
Kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin
Keturunan paling murni dari burung garuda.
Jika seekor elang muda ditantang oleh seekor harimau
Tanpa mengenal takut ia akan membelalakkan matanya.
Terbangmu pasti dan megah seperti terbang malaikat
Dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung
Di bawah kolong langit yang luas ini, kau tinggal
Martabatmu terangkat oleh kekuatan, sasaran apa pun tak ditampik oleh matamu
Kau tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapan pun saja.
Baik-baiklah kau membawa diri dan dengarkan selalu nasehat yang baik dan luhur
Muhammad Iqbal
Dari payam-i-mashriq (Pesan dari Timur)
Terjemah : Abdul Hadi Wm
ORANG ALIM DAN LAUTAN (MANTIQUT-THAIR)
ORANG ALIM DAN LAUTAN
Seorang alim, yang biasa merenungkan makna segala sesuatu pergi ke lautan dan bertanya, mengapa lautan memakai pakaian biru karena warna biru adalah warna duka, dan mengapa ia mendidih tanpa api?
Lautan menjawab pada sang perenung itu,”Aku risau karena terpisah dari sahabatku.
Karena kekuranganku, aku tak layak baginya; maka kukenakan pakaian biru ini sebagai pertanda sesal yang kurasa.
Dalam kesedihanku, pantai-pantai bibirku kering. Dan disebabkan api cintaku, aku berada di kegalauan ini;
Kalau dapat kuperoleh setitik saja air surgawi dari Al-Kautsar, maka dapat kukuasai gerbang kehidupan kekal. Tanpa setitik ini, aku akan mati karena gairah-damba bersama ribuan yang lain, yang binasa dalam perjalanan.”
Dari : Parlemen Burung, Fariduddin Attar
Seorang alim, yang biasa merenungkan makna segala sesuatu pergi ke lautan dan bertanya, mengapa lautan memakai pakaian biru karena warna biru adalah warna duka, dan mengapa ia mendidih tanpa api?
Lautan menjawab pada sang perenung itu,”Aku risau karena terpisah dari sahabatku.
Karena kekuranganku, aku tak layak baginya; maka kukenakan pakaian biru ini sebagai pertanda sesal yang kurasa.
Dalam kesedihanku, pantai-pantai bibirku kering. Dan disebabkan api cintaku, aku berada di kegalauan ini;
Kalau dapat kuperoleh setitik saja air surgawi dari Al-Kautsar, maka dapat kukuasai gerbang kehidupan kekal. Tanpa setitik ini, aku akan mati karena gairah-damba bersama ribuan yang lain, yang binasa dalam perjalanan.”
Dari : Parlemen Burung, Fariduddin Attar
GURU RUHANI DAN MURIDNYA (MANTIQUT-THAIR)
Dalih Burung Keenam
Dari Mantiqut thair by Faridu'd-Din Attar
Guru Ruhani dan Muridnya
Seorang murid yang masih muda, tanpa sepenetahuan gurunya (seperti dikiranya) mempunyai sekedar simpanan emas. Gurunya itu tak berkata apa-apa, dan suatu hari mereka pergi bersama-sama dalam suatu perlawatan. Akhirnya mereka sampai ke sebuah lembah yang gelap; di tempat masuk ke lembah itu terbentang dua jalan. Si murid mulai khawatir, sebab emas (memang) merusak pemiliknya.
Gemetar ia pun bertanya pada Gurunya, “Jalan mana yang mesti kita tempuh?” Gurunya itu menjawab, “Bebaskan dirimu dari apa yang membuatmu khawatir itu, maka jalan mana pun tak menjadi soal. Setan takut akan orang yang tak mempedulikan uang, dan cepat akan menghindar daripadanya. Demi sebutir emas kau membelah sehelai rambut. Secara agama, emas seperti keledai yang lumpuh; tak ada harganya, hanya merupakan beban.
Bila kekayaan datang pada seseorang dengan tak disangka-sangka, mula-mula akan membuatnya bingung, kemudian menguasainya. Ia yang terikat dengan cinta akan uang dan harta milik, terikatlah tangan dan kakinya dan dilontarkan ke dalam lubang-penjara. Hindarilah lubang penjara yang dalam ini jika kau bisa; jika tidak, tahan nafasmu, sebab udara didalamnya amat luar biasa pengapnya.”
Dari Mantiqut thair by Faridu'd-Din Attar
Guru Ruhani dan Muridnya
Seorang murid yang masih muda, tanpa sepenetahuan gurunya (seperti dikiranya) mempunyai sekedar simpanan emas. Gurunya itu tak berkata apa-apa, dan suatu hari mereka pergi bersama-sama dalam suatu perlawatan. Akhirnya mereka sampai ke sebuah lembah yang gelap; di tempat masuk ke lembah itu terbentang dua jalan. Si murid mulai khawatir, sebab emas (memang) merusak pemiliknya.
Gemetar ia pun bertanya pada Gurunya, “Jalan mana yang mesti kita tempuh?” Gurunya itu menjawab, “Bebaskan dirimu dari apa yang membuatmu khawatir itu, maka jalan mana pun tak menjadi soal. Setan takut akan orang yang tak mempedulikan uang, dan cepat akan menghindar daripadanya. Demi sebutir emas kau membelah sehelai rambut. Secara agama, emas seperti keledai yang lumpuh; tak ada harganya, hanya merupakan beban.
Bila kekayaan datang pada seseorang dengan tak disangka-sangka, mula-mula akan membuatnya bingung, kemudian menguasainya. Ia yang terikat dengan cinta akan uang dan harta milik, terikatlah tangan dan kakinya dan dilontarkan ke dalam lubang-penjara. Hindarilah lubang penjara yang dalam ini jika kau bisa; jika tidak, tahan nafasmu, sebab udara didalamnya amat luar biasa pengapnya.”
BURUNG-BURUNG BERANGKAT
Burung-burung Berangkat
Manthiqut-Thair by Faridu'd-Din Attar
Faridu'd-Din AttarTakut dan cemas menimbulkan jerit kepiluan burung-burung itu ketika mereka memandang jalan yang tiada berulung di mana topan pembebasan dari segala yang berbau bumi membelah ruang langit. Dalam ketakutannya, mereka berdesak-desakan dan minta petunjuk pada Hudhud. Mereka berkata, “Kami tak tahu bagaimana harus menghadap Simurgh dengan hormat-takzim sepatutnya. Tetapi kau pernah hidup di dekat Sulaiman dan tahu sopan santun. Juga kau telah mendaki dan menuruni jalan ini, dan berkali-kali terbang keliling dunia. Kau imam kami, yang dapat mengikat melepaskan. Kami minta kau kini naik mimbar dan mengajar kami.
Ceritakan pada kami tentang jalan itu dan tentang istana Raja serta upacara-upacara di sana, karena kami tak ingin memperlihatkan tingkah laku yang dungu. Juga segala macam kesulitan timbul dalam pikiran kami, dan untuk perjalanan ini kami perlu bebas dari kecemasan. Banyak pertanyaan yang mesti kami ajukan, dan kami ingin kau akan dapat melenyapkan keragu-raguan kami; jika tidak, kami tak akan dapat melihat dengan jelas di jalan panjang ini.”
Hudhud kemudian mengenakan mahkota di kepalanya, duduk di singgasana dan bersiap diri hendak berbicara pada mereka. Ketika pasukan burung-burung berjajar di mukanya dalam barisan, Bulbul dan Perkutut mendekat, dan seperti dua pembaca dengan suara yang sama, mereka memancarkan lagu yang begitu merdu sehingga segala yang mendengar merasa terhanyut. Kemudian satu demi satu, sejumlah burung mendekat padanya untuk bicara tentang berbagai kesulitan dan menyatakan alasan-alasan mereka.
Manthiqut-Thair by Faridu'd-Din Attar
Faridu'd-Din AttarTakut dan cemas menimbulkan jerit kepiluan burung-burung itu ketika mereka memandang jalan yang tiada berulung di mana topan pembebasan dari segala yang berbau bumi membelah ruang langit. Dalam ketakutannya, mereka berdesak-desakan dan minta petunjuk pada Hudhud. Mereka berkata, “Kami tak tahu bagaimana harus menghadap Simurgh dengan hormat-takzim sepatutnya. Tetapi kau pernah hidup di dekat Sulaiman dan tahu sopan santun. Juga kau telah mendaki dan menuruni jalan ini, dan berkali-kali terbang keliling dunia. Kau imam kami, yang dapat mengikat melepaskan. Kami minta kau kini naik mimbar dan mengajar kami.
Ceritakan pada kami tentang jalan itu dan tentang istana Raja serta upacara-upacara di sana, karena kami tak ingin memperlihatkan tingkah laku yang dungu. Juga segala macam kesulitan timbul dalam pikiran kami, dan untuk perjalanan ini kami perlu bebas dari kecemasan. Banyak pertanyaan yang mesti kami ajukan, dan kami ingin kau akan dapat melenyapkan keragu-raguan kami; jika tidak, kami tak akan dapat melihat dengan jelas di jalan panjang ini.”
Hudhud kemudian mengenakan mahkota di kepalanya, duduk di singgasana dan bersiap diri hendak berbicara pada mereka. Ketika pasukan burung-burung berjajar di mukanya dalam barisan, Bulbul dan Perkutut mendekat, dan seperti dua pembaca dengan suara yang sama, mereka memancarkan lagu yang begitu merdu sehingga segala yang mendengar merasa terhanyut. Kemudian satu demi satu, sejumlah burung mendekat padanya untuk bicara tentang berbagai kesulitan dan menyatakan alasan-alasan mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)






